Jumlah Debu di Atmosfer Telah Bertambah Dua Kali Lipat | b l o g o d r i l

14 January 2011

Jumlah Debu di Atmosfer Telah Bertambah Dua Kali Lipat

Science Daily (12/01) melaporkan bahwa selama satu abad terakhir jumlah debu di atmosfer bumi telah bertambah dua kali lipat, menurut suatu penelitian yang dipimpin oleh oleh Natalie Mahowald, associate professor di bidang earth and atmospheric sciences. Kodisi ini merupakan peningkatan yang dramatis sehingga mempengaruhi iklim dan ekologi di seluruh dunia.

Penelitian oleh tim Mahowald ini telah dipaparkan di dalam pertemuan musim gugur American Geophysical Union di San Francisco 13 Desember 2010.

Gambar Satelit Pusaran Badai Debu di atas Gurun Sahara (Sumber: NASA)


Liputan ScienceDaily ini menjelaskan bahwa Mahowald menganalisis data yang tersedia dan membuat model komputer untuk memperkirakan jumlah debu padang pasir, atau partikel tanah di atmosfer dalam kurun waktu abad ke-20.

Kajian ini merupakan studi pertama kali untuk melacak fluktuasi aerosol alam, bukan yang disebabkan oleh aktivitas manusia, di seluruh dunia selama satu abad. Seperti Mohawald katakan, bahwa sebagian besar penelitian yang berkaitan dengan dampak aerosol terhadap iklim difokuskan pada aerosol antropogenik (yang disebabkan oleh aktivitas manusia melalui pembakaran).

Dampak Debu di Atmosfer

Debu gurun berkaitan erat dengan iklim di bumi, saling mempengaruhi satu sama lain secara langsung maupun tidak langsung melalui berbagai sistem. Debu menghambat dan membatasi jumlah radiasi matahari yang mencapai bumi karena debu memantulkan radiasi matahari kembali ke atmosfer. Wilayah dunia yang dinaungi debu di atasnya menjadi kurang panas [1,2].

Sama seperti jika terjadi peningkatan CO2 di atmosfernya, akibatnya berpengaruh pada awan dan curah hujan. Curah hujan makin berkurang lalu menyebabkan kekeringan. Pada gilirannya dapat menyebabkan lebih banyak debu dan penggurunan (desertification).

Debu juga merupakan sumber utama zat besi di samudera. Melalui proses kimia yang rumit, zat besi menjadi tersedia dan berguna bagi kehidupan plankton dan organisme lainnya. Selain itu zat besi juga mampu menarik/mengikat karbon dari atmosfir.

Fluktuasi Debu Gurun [1]

Para peneliti ini telah mengukur fluktuasi debu gurun lebih dari satu abad, dengan mengumpulkan data/informasi tentang konsentrasi masa lalu debu gurun yang ada di dalam inti es, endapan danau dan karang di wilayah-wilayah tertentu di dunia. Setiap sampel kemudian dilacak atu dihubungkan dengan kemungkinan sumber debu, daerah atau gurun asalnya. Laju pengendapan debu kemudian dihitung dari waktu ke waktu. Selanjutnya,dengan suatu sistem pemodelan komputer yang dikenal sebagai Model Sistem Iklim Komunitas (the Community Climate System Model), peneliti merekonstruksi pengaruh debu gurun pada suhu, curah hujan, endapan besi di samudera dan penyerapan karbon terestrial dari waktu ke waktu.

Para peneliti ini diantaranya menemukan bahwa perubahan suhu dan curah hujan di suatu wilayah menyebabkan pengurangan penyerapan karbon terestrial global. Sampai dengan abad ke 20 mencapai 6 ppm (parts per million). Model ini juga menunjukkan debu yang disimpan dalam lautan meningkatkan serapan karbon dari atmosfir sebesar 6 persen, atau 4 ppm, dalam periode waktu yang sama.

Di waktu lalu, para peneliti lain, yang dipimpin Uno, juga menemukan bahwa awan debu (gurun) dapat terbang hingga 8 - 10 km ( 5-6 mil) di atas permukaan bumi dan bergerak lebih dari satu putaran keliling bumi [3]. Temuan ini memperkuat hasil studi Mahowald bahwa keberadaan debu di atmosfer berpengaruh terhadap perubahan iklim global demikian pula sebaliknya.

Sources:

1. Cornell University (2011, January 12). Earth is twice as dusty as in 19th century, research shows. ScienceDaily. Retrieved January 14, 2011, from http://www.sciencedaily.com­ /releases/2011/01/110110055748.htm
2. Dust particles have global impact; http://www.cartage.org.lb/en/themes/Sciences/Earthscience/Geology/Deserts/Dustparticles/Dustparticles.htm
3. China dust cloud circled globe in 13 days, Reuter (Mon Jul 20, 2009). Retrieved January 14, 2011, from http://www.reuters.com/article/idUSTRE56J3YH20090720?feedType=RSS&feedName=environmentNews

Digg
Stumbleupon
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Related Posts with Thumbnails

Followers

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP