"Omo Hada" Rumah Tradisional Tahan Gempa Warisan Langka Dunia | b l o g o d r i l

01 May 2010

"Omo Hada" Rumah Tradisional Tahan Gempa Warisan Langka Dunia



Menurut Marco Kusumawijaya, arsitek dan pengamat tata kota (Sinar Harapan, Nopember 2008), hampir semua rumah tradisional Indonesia fleksibel dan stabil terhadap gempa. Hal ini disebabkan oleh beberapa ciri-ciri rumah tradisional, menurut berbagai pustaka yang saya baca, antara lain:

1. Struktur rumah tradisional tidak sekaku struktur rumah beton. Karena rangka utamanya (core frame) terdiri dari batu (umpak), kolom utama, dan kolom-kolom penguat. Kolom utama umumnya berdiri tegak dan diantaranya terdapat kolom-kolom penguat yang bersilangan, menyerupai huruf x miring. Kolom-kolom inilah yang berfungsi untuk menahan beban lateral yang bergerak horizontal ketika terjadi gempa.

2. Struktur rumah tradisional yang berbahan kayu menghasilkan kemampuan meredam getaran/guncangan lebih efektif, lebih fleksibel, dan juga stabil.

3. Kolom rumah memiliki tumpuan sendi dan rol atau ikatan antara balok kayu yang saling mengunci tanpa dipaku. Kolom-kolom tegak dihubungkan dengan kolom-kolom penguat atau balok-balok penyangga melalui sambungan sistem pasak. Teknik pasak pada sambungan kayu membuat balok-balok kayu tidak patah ketika terjadi gempa, karena balok-balok penyangga ini yang dapat berputar bebas seperti engsel pada jarak tertentu.

Meskipun arsitektur rumah tradisional nampak berbeda-beda antara satu etnis dengan etnis lain di wilayah Nusantara, misalnya: Omo Hada di Nias; Rumah panggung di daratan Sumatera; Joglo di Jawa dan rumah tradisional lain di Bali, Minahasa, Sumbawa, Alor dan Papua; namun ciri-ciri struktur tahan gempa tersebut umumnya dapat dijumpai di setiap rumah tradisional tersebut.

Rumah Tradisional: Omo Hada


Desa-desa tradisional di Nias biasanya ditata mengikut pola bentuk- U. Rumah rumah kepala suku atau raja, sebagai orang yang paling dihormati dan dipatuhi, biasanya terletak paling ujung, diapit oleh sederetan rumah yang sejajar tempat para pejabat kampung yang lebih rendah tingkatannya dan warga biasa tinggal. Jajaran rumah ini saling berhadapan satu sama lain.

Arsitektur rumah tradisional berbentuk oval, hampir serupa di seluruh desa di Nias. Berjajar tegak nampak bebas satu sama lain, beberapa diantaranya dikelilingi rimbunan pepohonan. Yang membedakan rumah satu dan lainnya hanya proporsi bangunannya saja,seperti: kecil dan besar, atap tinggi dan atap rendah, eliptis sempurna dan oval agak benjol!

Dua jenis rumah dapat dijumpai yaitu rumah untuk warga biasa atau "Omo Pasisir" dan rumah adat/tradisional yang dikenal sebagai Omo Hada. Omo Hada inilah yang menjadi tempat tinggal raja atau kepala suku (tuhenori/salawa). Luas rumah ini sekitar 9 x 24 meter persegi dengan ketinggian rumah dapat mencapai: 24 meter. Rumah yang diperkirakan telah berumur lebih dari 200 tahun, masih berdiri tegak meskipun beberapa kali gempa bumi yang tergolong dahsyat menguncang Nias. Struktur rumah berbahan kayu, kolom utama berupa batang kayu gelondongan dengan batang-batang kayu lebih kecil sebagai penguatnya dan atap berupa lembaran-lembaran anyaman daun nipah. Kokoh dan Megah!

Struktur "tahan gempa" rumah tradisional Nias digambarkan oleh Evawani Ellisa, Staf Pengajar Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia dalam artikelnya: "Rumah-rumah oval tahan gempa di nias utara" , sebagai berikut:

"Kolom-kolom tegak dan diagonal menopang sekaligus melindungi rumah dari ancaman gempa. Di bagian tengah bangunan, kolom-kolom dari kolong yang menjulang ke atas menembus lantai hingga bubungan atap, bertugas mendukung struktur atap. Sedangkan di bagian pinggir bangunan, kolom-kolom berhenti di atas ruang hunian dan membentuk jurai atap. Sebagaimana dinding, atap bangunan juga mengikuti bentuk lantai yang oval. Daun nipah yang dianyam pada sebilah bambu menghasilkan lembaran-lembaran yang dirangkai sebagai penutup atap."



Warisan Langka Dunia


Di depan rumah adat setempat seringkali dijumpai "menhir", sebagai peninggalan tradisi Megalithic di Nias. Selain itu, batu Harefa atau "daro-daro" dapat dijumpai tegak berdiri di depan rumah adat mereka. Keberadaannya menunjukkan bahwa pemiliknya mempunyai status sosial yang tinggi.

Oleh karena kekayaan tradisi dan arsitektur "vernakular" rumah adat yang otentik ini, maka Omo Hada di Nias telah ditetapkan oleh World Monuments Fund (WMF) yang bermarkas di New York, sebagai salah satu warisan langka di dunia atau World Endangered Heritage yang terdapat di Indonesia (2006, 2004, 2002, 2000). Sama seperti tempat lainnya, yaitu: Borobudur - di Jawa Tengah (1996); Candi Tanah Lot - di Beraban Bali (2000); Tamansari- di Yogyakarta (2004) dan Kotagede - di Yogayakarta (2008).

Khasanah arsitektur Indonesia menjadi sangat beragam dan kaya setara dengan pluralitas suku-suku di wilayah Nusantara, namun keragaman ini dijalin oleh suatu kearifan tradisional (indigenous knowledge) dalam hal beradaptasi terhadap ancaman bencana alam, yaitu: ketahanannya terhadap gempa!

Referensi:
1. Evawani Ellisa, Rumah-rumah Oval Tahan Gempa di Nias Utara, http://www.goethe.de/ins/id/lp/prj/art/arc/pla/ess/id740620.htm; retrieved: 12/April/2010.
2. Ardy Arsyad, 2009; Rumah Tradisional Tahan Gempa, http://web.civileng-unhas.info/index.php?option=com_content&task=view&id=38&Itemid=35; retrieved: 12/April/2010.

Related Post:
Apakah Rumah Anda Aman Dari Gempa Bumi?

Digg
Stumbleupon
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Related Posts with Thumbnails

Followers

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP