Asidifikasi Samudera: Tingkat Keasaman Lautan Naik Lebih Besar Dari Yang Pernah Terjadi | b l o g o d r i l

28 April 2010

Asidifikasi Samudera: Tingkat Keasaman Lautan Naik Lebih Besar Dari Yang Pernah Terjadi

Kajian Dewan Riset Nasional (National Research Council) Amerika Serikat, yang dirilis Kamis (22 April 2010) menyimpulkan bahwa lautan menyerap lebih dari 1 juta ton karbon dioksida (C02) per jam, maka tingkat keasaman di lautan naik pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya dan akan mengubah ekosistem laut.

Dewan mengatakan bahwa lautan 30 persen lebih asam dibandingkan dengan sebelum Revolusi Industri yang dimulai sekitar 200 tahun yang lalu, dan samudera menyerap sepertiga emisi CO2 saat ini, termasuk yang berasal dari penggunaan bahan bakar fosil, produksi semen, dan deforestasi.

Gambar - Proyeksi Perubahan Asidifikasi Samudera sampai dengan Tahun 2099


Sumber: "Antarctica does Acid - global warming, ocean acidification, and the Southern Ocean," 2006).


Sejak awal Revolusi Industri, pH rata-rata permukaan air laut telah menurun sekitar 0,1 unit - pada skala sekitar 8,2 - 8,1, sehingga membuat muka air laut menjadi lebih asam. Namun, model kajian memproyeksikan laju penurunan pH 0,2 - 0,3 unit pada akhir abad ini Tingkat perubahan keasaman air laut telah melebihi apa pun yang telah terjadi ratusan ribu tahun, kata laporan itu [1].

Secara ringkas CO2 yang diserap oleh laut telah menyebabkan penurunan pH air dan perubahan kondisi kimia lautan yang dikenal sebagai pengasaman atau asidifikasi samudera (ocean acidification).

Proses asidifikasi samudera, secara sederhana, adalah karbon dioksida dari pembakaran bahan bakar fosil yang terakumulasi dalam atmosfer, menyebabkan pemanasan global, berpengaruh terhadap samudera atau lautan kita. Karbon dioksida diserap oleh laut dan bereaksi dengan air laut membentuk asam karbonat dan meningkatkan keasamam air laut.

Sebaliknya, air laut menjadi kekurangan persediaan karbonat, yang dikenal sebagai zat yang digunakan oleh puluhan ribu spesies hewan laut untuk membentuk cangkang dan tulang (kerangka). Jika keasaman lautan cukup tinggi, air laut menjadi korosif dan melarutkan cangkang, melemahkan pertumbuhan hewan laut dan terumbu karang beserta jutaan spesies hewan laut yang bergantung kepadanya. Pada akhirnya bencana pengasaman laut yang dahsyat ini akan memusnahkan mereka.



Asidifikasi samudera, tidak dapat disangkal lagi, adalah bencana lingkungan yang secara diam-diam dapat menghancurkan ekosistem laut dan mengancam produktivitas perikanan.

Jika kita tidak memperlambat laju pembakaran bahan bakar fosil, merujuk laporan tersebut, maka keasaman laut rata-rata akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada akhir abad ini.

Dampak komersialnya adalah mengancam sumber makanan bagi ratusan juta orang dan industri perikanan, pariwisata serta penangkapan ikan yang telah menampung lebih dari 38 juta orang secara langsung dan sekitar 162 juta orang yang bergantung secara tidak langsung [2].

Asidifikasi samudera bisa menciptakan kebangkrutan ekonomi lokal dan nelayan kita yang bergantung pada perikanan terumbu karang.

Reference:
1. National Research Council, CO2 Emissions Causing Ocean Acidification to Progress at Unprecedented Rate, http://www8.nationalacademies.org/onpinews/newsitem.aspx?RecordID=12904, released April 22,2010; retrieved April 27,2010.
2. J. Emmett Duffy, 2006. Marine ecosystem services, http://www.eoearth.org/article/Marine_ecosystem_services, last Updated: October 16, 2006; retrieved April 27,2010.

Digg
Stumbleupon
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Related Posts with Thumbnails

Followers

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP