Earth Hour 2010: Dalam Kegelapan 60 Menit... | b l o g o d r i l

28 March 2010

Earth Hour 2010: Dalam Kegelapan 60 Menit...

Tidak kurang dari 4.000 kota di lebih dari 120 negara dimulai dari Chatham Islands di lepas pantai Selandia Baru, hingga Edinburgh Castle di Skotlandia telah berpartisipasi mematikan lampu dan peralatan listrik dari pukul 8:30 pm (27/03/2010 malam). Bersama-sama lampu mati di landmark-landmark dunia yang terkenal, antara lain menara Eiffel di Paris, Big Ben di London, dan Colosseum di Roma, semua terlihat gelap pada Sabtu malam menyusul Sydney Opera House dan Kota Terlarang Beijing. Di Amerika Serikat, lampu padam di Empire State Building di New York, National Cathedral di Washington, dan di kantor pusat Coca-Cola di Atlanta, serta di beberapa tempat lain di berbagai wilayah.

Sayapun demikian, bersama keluarga, untuk kali kedua ikut ambil bagian setelah tahun lalu, memadamkan lampu rumah dan memasang lilin. Melakukan gerakan Earth Hour 2010.

Bagi saya, dalam kegelapan selama 60 menit atau satu jam, hakekatnya kita diajak berpikir ulang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan untuk melestarikan lingkungan hidup sehingga dapat dimanfaatkan oleh anak-anak kita di masa datang.

Dalam kegelapan (0:01 - 0:25), teringat kearifan lokal masyarakat Bali dalam merayakan pergantian tahun mereka yang disebut ‘Nyepi’, baru-baru ini. Nyepi memiliki empat prinsip utama yang dikenal dengan nama “Catur Berata Penyepian” yang terdiri dari tanpa api, tanpa kerja, tanpa kesenangan, dan tanpa bepergian selama sehari penuh. Bukan cuma satu jam, tetapi 24 jam. Jelaslah, bahwa setiap orang Bali telah mengurangi konsumsinya terkait makanan, listrik, dan energi lainnya lebih banyak dari setiap orang di dunia saat itu. Mobil dan kendaraan bermotor lain berhenti tidak berlalu-lalang saat itu. Sehingga, bahan bakar dihemat dan emisi karbon dioksida telah berkurang saat berlangsungnya Nyepi di Bali.

Dalam kegelapan (0:26-0:35)
, terpikir bahwa masih banyak kearifan lokal tentang keberlanjutan lingkungan dan kehidupan selaras alam dari berbagai suku bangsa Indonesia yang barangkali tidak dikenal lagi oleh generasi kita sekarang. Kecuali mereka yang kesehariannya masih terikat adat dan tradisi kuat leluhur di masyarakatnya masing-masing, seperti halnya masyarakat Bali, kita mengenal tradisi "Sasi" di Haruku Maluku yang mengatur larangan untuk mengambil hasil sumberdaya alam tertentu sebagai upaya pelestarian demi menjaga mutu dan populasi sumberdaya hayati (hewani maupun nabati).

Dalam kegelapan (0:36-0:45), ingatan melayang ke suku Kajang (masyarakat adat Ammatoa) di Sulawesi Selatan, dengan ajaran "pasang", yang meyakini bahwa di dalam hutan terdapat kekuatan gaib yang dapat mensejahterakan sekaligus mendatangkan bencana jika tidak dijaga kelestariannya.

Dalam kegelapan (0:46-0:55) terbayang suku-suku di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai – Sumatera telah lama menggunakan ratusan jenis-jenis tanaman obat untuk mengatasi penyakit demam hingga penawar luka. Konsekuensinya mereka memelihara dan melestarikan beratus-ratus jenis tanaman obat hingga kini. Kearifan tradisional terbukti peduli dengan keanekaragaman hayati!

Menjelang akhir 60 menit kegelapan (0:56-1:00), saya belum juga mendapat ide cemerlang untuk melakukan tindakan yang berarti bagi keberlanjutan lingkungan. Tapi, tidak apa-apa, paling tidak saya bisa terus memberikan pengertian, contoh dan mengubah kebiasaan anak-anak agar tetap menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan, membuang sampah pada tempatnya dan menghemat energi (listrik) serta menghemat air bersih.

Ada makna simbolis ketika banyak orang di dunia "memadamkan" lampu dalam Earth Hour. Meskipun hanya satu jam saja, namun jika dilakukan serentak oleh jutaan orang di berbagai belahan bumi tentu menciptakan magnitudo yang berarti. Pesan yang ingin disampaikan dalam gerakan ini yaitu kepedulian tentang lingkungan hidup yang berkelanjutan terutama untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

"...Ini adalah tindakan sederhana, tetapi panggilan yang kuat untuk bertindak," kata Direktur Jenderal World Wildlife Fund (WWF), James Leape, seperti dilaporkan WWF menyelenggarakan "Earth Hour" ini untuk kali keempat pada tahun 2010. Dilaporkan pula bahwa setiap tahun gerakan ini berhasil diikuti lebih banyak orang, artinya lebih banyak orang yang terpanggil untuk ambil bagian menurunkan emisi karbon setiap tahun dengan mengurangi konsumsi energi bersama-sama secara sukarela.

Digg
Stumbleupon
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Related Posts with Thumbnails

Followers

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP