Biofuel: Produksi Biofuel Nasional Merosot Karena Harga CPO Dunia Melonjak (#9) | b l o g o d r i l

16 March 2010

Biofuel: Produksi Biofuel Nasional Merosot Karena Harga CPO Dunia Melonjak (#9)

Bahan bakar yang dibuat dari minyak nabati, limbah minyak goreng ("jelantah"), lemak hewan atau "Tall Oil" yang dihasilkan oleh kilang pulp dan kertas disebut sebagai Biofuel. Minyak tersebut mengalami proses kimia yang disebut transesterifikasi (transesterification), yaitu penggantian komponen gliserol minyak saat minyak bereaksi dengan alkohol (biasanya methanol atau ethanol), dengan menggunakan katalis seperti natrium hidroksida. Hasil reaksi kimia ini menghasilkan biodiesel dan ester yang disebut gliserin. Sedangkan, biofuel yang terbuat dari karbohidrat tanaman, seperti jagung, gula bit, gandum, kentang dan berbagai pati dan gula (tebu) dikenal sebagai bioethanol. Biofuel pada dasarnya dapat dibedakan: biodiesel dan bioethanol.

Bahan baku biofuel umumnya berasal dari produk pertanian saat ini, seperti: Jagung dan Kedelai, terutama di Amerika Serikat; Flaxseed dan Brassica napus, terutama di Eropa; Tebu di Brazil; Kelapa Sawit di Asia Tenggara; dan Jarak Pagar, terutama di India.

Biofuel termasuk energi terbarukan, dan seperti rangkaian artikel energi sebelumnya, berikut ini akan diuraikan keuntungan dan kerugian biofuel [1] dan kasus produksi biofuel 2009 di Indonesia.

Memang masih terdapat pro dan kontra dalam pemanfaatan biofuel. Di satu pihak, mereka yang "pro" menyebutkan bahwa sumber daya energi biofuel ini terbarukan, seperti solar tetapi sedikit menghasilkan emisi CO2 dibandingkan solar. Di lain pihak, mereka yang "kontra" berargumen, sebelum tanaman dikonversi menjadi bahan bakar minyak, dalam pembangunan kebun atau ladang tanaman telah melepaskan emisi CO2 pada tahap penanaman, pemupukan, perawatan, pemanenan, pengangkutan dan pengolahan tanaman. Jika energi yang dipakai untuk proses pembuatan biofuel menggunakan batubara arau gas, tentu melepaskan banyak emisi CO2 juga.

Belum lagi, kalau benar banyak kendaraan yang menggunakan biofuel, maka akan menimbulkan pilihan yang bertentangan apakah tanaman seperti jagung, kedelai, gandum akan dipakai untuk "memberi makan" kendaraan atau "memberi makan" penduduk? Bisa-bisa, makin banyak biofuel untuk kendaraan semakin rawan pangan !!

Di beberapa negara untuk memproduksi bioethanol seringkali mengorbankan lingkungan hidup, misalnya, Brasil memproduksi ethanol dari tebu yang ditanam pada lahan-lahan hutan Amazon yang ditebang atau dibuka untuk perkebunan.

Sumber: Harian Kompas

Nah, berikut ini keuntungan dan kekurangan baik biodiesel maupun bioethanol.

Keuntungan Biodiesel


- Terbuat dari sumber daya terbarukan.
- Berfungsi seperti solar pada umumnya
- Menghasilkan polusi lebih sedikit dan lebih mudah terbakar dibandingkan dengan bahan bakar diesel biasa.
- Dapat dicampur dengan bahan bakar diesel biasa.
- Mengurangi bahaya kontaminasi tanah dan air bawah tanah selama transportasi, penyimpanan dan penggunaan.
- Tidak mengandung belerang, zat-zat yang dapat menyebabkan hujan asam.
- Tidak ada biaya tambahan untuk konversi mesin dibandingkan dengan bahan bakar biologis lainnya.
- Sangat cocok untuk catalytic converter.
- Membuat mesin lebih awet jika menggunakan biodiesel
- Menghasilkan 78% lebih sedikit emisi karbon dioksida (CO2) daripada bahan bakar diesel biasa.

Kekurangan Biodiesel


- Lebih mahal daripada bahan bakar diesel biasa.
- Cenderung mengurangi keekonomian bahan bakar.
- Kurang cocok untuk digunakan dalam suhu rendah.
- Tidak dapat dipindahkan/diangkut melalui pipa.
- Menghasilkan lebih banyak emisi nitrogen oksida (NOx)
- Hanya dapat digunakan untuk mesin bertenaga diesel.
- Menyebabkan tabung bahan bakar kendaraan tua menurun keawetannya (tambah korosi)
- Lebih banyak mengikat uap air, yang dapat menyebabkan masalah dalam cuaca dingin (misalnya: bahan bakar beku, deposit air di sistem penyaluran bahan bakar kendaraan, aliran bahan bakar dingin, pengkabutan, dan peningkatan korosi).

Keuntungan Bioethanol


- Penggunaan bahan bakar ethanol-blended seperti E85 (85% etanol dan 15% bensin) dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sebanyak 37,1%, suatu jumlah yang signifikan.
- Bahan bakar ethanol E10 (10 % ethanol dan 90 % bensin) mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 3,9 %.
- Efek dari penggunaan ethanol mengakibatkan penurunan secara keseluruhan pembentukan ozon, suatu isu lingkungan hidup yang penting (karena emisi yang dihasilkan oleh pembakaran ethanol kurang reaktif dengan sinar matahari daripada yang dihasilkan oleh pembakaran bensin, sehingga kurang potensinya merusak ozon)
- Ethanol dianggap sebagai sumber daya energi terbarukan
- Menjamin keamanan persediaan energi dalam negeri, mengurangi impor dari negara lain
- Pembakaran ethanol lebih sempurna atau lebih bersih
- Tumpahan bahan bakar ethanol mudah terurai di tanah atau dilarutkan sehingga menjadi tidak beracun.

Kekurangan Bioethanol


- Produksi ethanol membutuhkan energi untuk konversi yang signifikan dan lahan luas untuk ladang atau perkebunan.
- Bahan bakar dengan 10% kadar ethanol tidak cocok komponen sistem bahan bakar non-E85 dan dapat menyebabkan korosi pada komponen besi.
- Berdampak pada pompa bahan bakar listrik dan meningkatkan resiko percikan api pada mesin.

Brazil dan Amerika Serikat produsen dan konsumen terbesar bioethanol. Industri biofuel dunia saat ini masih didominasi oleh produksi bioethanol, yang mencapai sekitar 700.000 barel per hari, sementara itu biodisel produksinya hanya sekitar 75.000 barel per hari pada tahun 2006. Brazil saat ini telah melampaui produksi bioethanol Amerika Serikat, dan menempatkan negara tersebut sebagai produsen terbesar bioethanol dunia, dengan produksi mencapai 320.000 barel per hari.

Amerika serikat dan Brazil sebagai negara utama produsen dan konsumen bioethanol di dunia, kedua negara ini memproduksi bioethanol mencapai 80% dari total produksi dunia. Sebaliknya, konsumsi bioethanol oleh Amerika Serikat dan Brazil mencapai 75% dari total konsumsi dunia.

Selain di Amerika Serikat dan Brazil, bioethanol juga berkembang pesat di negara-negara Uni Eropa seperti Jerman, Spanyol dan Swedia. Sementara itu Honggaria, Lithuania dan republik Czech adalah negara baru produsen bioethanol. Di Asia bioethanol mulai berkembang di beberapa negara antara lain India, Thailand, China, Malaysia dan Indonesia.

Biofuel di Indonesia



Bagi Indonesia, biofuel berpeluang untuk membantu mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor minyak mentah. Pemerintah Indonesia saat ini berencana fokus pada pengembangan biofuel cair yang diolah dari Jarak Pagar, Kelapa Sawit, dan Tebu. Namun, saat ini hampir seluruh produsen biofuel di Indonesia menggunakan Crude Palm Oil (CPO) dari kelapa sawit.

Ketergantungan produksi Biofuel di Indonesia pada CPO (minyak kelapa sawit) menjadikan kontinuitas produksi dan pasokan biofuel tidak stabil di pasar. Kasusnya, ketika harga CPO melonjak lebih dari 57 % pada 2009 akibat meningkatnya permintaan CPO dari konsumen terbesar dunia, India dan Cina, dan persediaan kedelai yang menipis di dunia akibat kekeringan di Amerika Selatan pada awal 2009, maka total produksi biofuel nasional tahun 2009 hanya 104.100 kiloliter, jatuh 96 % dari 2,56 juta kiloliter produksi tahun sebelumnya. Produsen CPO lebih suka mengekspor daripada memasok ke industri biofuel nasional. Menyedihkan!

Meskipun untuk pengembangan minyak nabati ini pemerintah Indonesia masih memberikan subsidi, Rp 1.000 (US 11 sen) per liter atau total sebesar Rp 831 miliar, selama 2009. Bahkan di tahun 2010, direncanakan subsidi untuk biofuel meningkat menjadi Rp. 2.000 per liter seiring dengan skema mandatory (wajib) pemerintah, sbb:
- Bahan Bakar Minyak yang dijual oleh BUMN PT Pertamina di pompa bensin harus mengandung setidaknya 1 % biofuel;
- Bahan bakar fosil untuk industri yang digunakan harus mengandung setidaknya 2,5 % biofuel, sedangkan
- Bahan bakar yang digunakan oleh perusahaan listrik negara PT PLN harus mengandung minimal 0,25 % biofuel.

Namun, tanpa diversifikasi sumber bahan baku biofuel, seperti minyak jarak pagar (Jathropa Curcas) dan lebih dari 40 alternatif bahan baku lainnya di Indonesia, maka Kebijakan Energi Nasional berupa konsumsi 4,7 juta kiloliter biofuel (5% dari konsumsi energi nasional) hingga tahun 2025 nampaknya perlu dipertimbangkan kembali.

Reference:
Prabhakar Pillai, Advantages and Disadvantages of Biofuels, Buzzle.com, http://www.buzzle.com/articles/advantages-and-disadvantages-of-biofuels.html

Related Posts:
1. Energi Air: Listrik Mikro Hidro Untuk Mengusir Kegelapan Pedesaan (#7)
2. Energi Surya: Keuntungan-, Kerugian-, dan Potensi-nya di Indonesia (#6)
3. Energi Angin: Akankah Ladang Angin Menjulang di Indonesia ? (#5)
4. Biomassa: Baru Dimanfaatkan 0.64% dari Potensinya di Indonesia (#4)
5.Energi Terbarukan: Mampukah Menyumbang 17% dari Bauran Energi Indonesia Pada 2025? (#3)
6.Energi Nuklir: 437 Reaktor Nuklir Telah Dibangun Sampai 2009 (#2)
7.Gas Alam untuk Mengurangi Emisi CO2 dan Menghemat Energi (#1)
8.Emisi CO2 dan Pengurangannya Di Masa Datang

Digg
Stumbleupon
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Related Posts with Thumbnails

Followers

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP