20 Perusahaan Teknologi Informasi dan Komunikasi Paling Unggul Dalam Kelola Kelestarian | b l o g o d r i l

12 March 2010

20 Perusahaan Teknologi Informasi dan Komunikasi Paling Unggul Dalam Kelola Kelestarian


Upaya untuk mendorong praktek-praktek kelestarian (sustainability) di bidang industri teknologi informasi dan komunikasi (Information and Communications Technology/ICT) telah menjadi perhatian utama dalam beberapa bulan terakhir. Upaya penciptaan produk teknologi yang lestari (sustainable) ini tidak sekedar mengurangi penggunaan energi dan limbah saja, tetapi lebih mengarah kepada penurunan emisi karbon di tingkat pengguna/masyarakat yang lebih luas.

The Tomorrow’s Value Rating (TVR), perusahaan besar di bidang ICT telah melakukan penilaian dan pemeringkatan perusahaan yang paling siap dalam hal kelestarian (sustainabilitas) di masa datang melalui praktek-praktek kelestarian lingkungan yang inovatif, termasuk produk yang sedikit/rendah meninggalkan jejak karbon (carbon footprint), solusi-solusi komersial untuk membantu berbagai pihak dalam perubahan iklim, pengelolaan limbah elektronik (e-waste) dan kepatuhan terhadap peraturan.

20 perusahaan terbesar di bidang ICT, sesuai daftar majalah Global Fortune 500, telah dinilai dan diperingkat oleh The Tomorrow’s Value Rating. Di dalam peringkat 10 besar ini, perusahaan ICT Eropa unggul dengan 7 perusahaan, Asia: 2 perusahaan dan Amerika Serikat: 1 perusahaan.

Secara keseluruhan, Vodafone memperoleh skor tertinggi dan berada di puncak peringkat dengan nilai 62 %. Perusahaan ini dinilai memiliki kepemimpinan yang kuat dan komitmen seluruh jajarannya terhadap isu-isu kelestarian dengan mengembangkan mekanisme tata-kelola perusahaan baik, mendengarkan dan menanggapi stakeholder baik lokal maupun global dan mengembangkan layanan yang membantu memperbaiki kehidupan orang-orang miskin dan masyarakat terpencil. Selain itu, perusahaan ini mampu menunjukkan perkembangan produk dan layanan yang membantu seluruh dunia dalam mendorong adaptasi perubahan iklim. Suatu upaya menyeimbangkan kelestarian dan tantangan usaha di masa datang yang kuat.

Di peringkat kedua, adalah produsen ponsel Nokia dengan nilai: 55 % yang telah mengembangkan teknologi inovatif, termasuk program penggunaan bahan daur ulang. Selanjutnya, Hewlett-Packard, dengan skor 52 %, perusahaan ini dipilih karena unggul dalam menciptakan rantai pasokan yang lebih berkelanjutan, termasuk mensyaratkan "green supply chain" dengan membuat pedoman untuk para pemasok berkepentingan dengan kimia hijau dan transparansi di seluruh rantai suplai. Perusahaan ICT dengan peringkat terendah adalah AT&T dan Verizon, dengan skor masing-masing 28 % dan 23 %.

Berikut ini peringkat lengkap 20 perusahaan ICT yang berkomitmen dalam pengelolaan lestari menurut The Tomorrow's Value Rating (Peringkat| Perusahaan |Skor ):

1 |  Vodafone  |   60%  |
2 |   Nokia   |    55%  |
3 |   Hewlett Packard   |   52%  |
4 |   France Telecom   |   49%  |
5 |   Siemens   |   47%  |
6 |   Sony Ericsson    |   46%  |
7 |   LG Electronics   |   46%  |
8 |   Panasonic   |   44%  |
9 |   Telefonica   |   42%  |
10 |   Motorolla   |   42%  |
11 |   Cisco    |   42%  |
12 |   Nippon Telegraph and Telephone Corporation   | 41%  |
13 |   Deutsche Telekom    |   40%  |
14 |   Hitachi   |   38%  |
15 |   Alcatel-Lucent    |   34%  |
16 |   Toshiba    |   32%  |
17 |   Samsung Electronics    |   32%  |
18 |   Sony    |   31%  |
19 |   AT&T    |   28%  |
20 |   Verizon    |   23%  |


Menurut laporan TVR, meskipun mereka adalah perusahaan terkemuka di bidangnya, namun pencapaian kali ini belumlah mengesankan, karena tidak ada perusahaan yang mencapai skor 60%, artinya masih terbuka peluang besar untuk terus melakukan perbaikan. Umumnya mereka telah menetapkan target pengurangan emisi CO2 dan telah berupaya keras mewujudkan secara signifikan. Mereka juga membantu sektor-sektor lain dan berpartisipasi dalam upaya-upaya mengurangi jejak karbon. Namun hasilnya belum seperti yang diharapkan. Kecuali, Panasonic yang telah menunjukkan kinerja yang baik dengan melaporkan kinerja usaha dalam pengurangan emisi karbon dan emisi gas rumah kaca lainnya di semua wilayah yang termasuk di dalam siklus hidup produk-produknya.

Kekurangan utama dari mereka, pada umumnya, dalam praktek pengelolaan limbah yang dinilai lebih daripada sekedar kepatuhan terhadap peraturan. Pertanggung-jawaban perusahaan tersebut dalam pengelolaan limbah elektronik (e-waste) umumnya diakui masih kurang. Sebagian besar dari mereka dinilai gagal memberikan perhatian dalam masalah e-waste ini, terutama pemecahan masalah e-waste di negara-negara berkembang.

Related Posts:
1. UNEP: E-waste is Growing Globally by 40 Million Tonnes a Year
2. Green Electronic: Greenpeace Menempatkan Nokia Di Peringkat Pertama "Greener Electronics"
2. We Are Going Faster Than The Planet Can Sustain




Digg
Stumbleupon
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Related Posts with Thumbnails

Followers

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP