"The Town That Was": Film Dokumenter Bencana Dari Aktivitas Penambangan | b l o g o d r i l

07 January 2010

"The Town That Was": Film Dokumenter Bencana Dari Aktivitas Penambangan



The Town That Was, film yang dibuat oleh Chris Perkel and Georgie Roland, berkisah tentang suatu kota kecil di Amerika Serikat yang di bawahnya tersimpan deposit batubara (anthracite) yang menyala selama 40 tahun terakhir.

Cerita bermula ketika api mulai membakar kota Centralia, di negara bagian Pennsylvania. Kota pertambangan yang sedang berkembang, dihuni lebih dari 1.600 penduduk, yang menempati 700 bangunan. Bencana hari itu hanya menyisakan 11 orang penduduknya.

Film ini dibuat selama 5 tahun, berfokus pada kehidupan John Lokitis, salah seorang warga Centralia yang tersisa. Dia terus bertahan hidup untuk memperjuangkan kampung halamannya yang telah hancur.

The Town That Was adalah film yang mendokumentasikan tentang kerusakan yang ditimbulkan oleh industri batubara yang disokong pemerintah Amerika Serikat, melalui kilas balik, serangkaian arsip, catatan dan rekaman serta wawancara dengan orang-orang yang dulunya pernah tinggal di Centralia.

" Anda seperti melihat tungku, ketika melongok ke bawah tanah", tutur Lokitis.

Api muncul pertama kali pada tahun 1962, hingga beberapa kebakaran mulai terjadi di bawah permukaan tanah pada pertengahan 1980-an, rekahan panjang terjadi sepanjang jalan hingga terlihat bara api batuan antracite di dalamnya. Namun demikian pemerintah belum peduli. Sampai saatnya seorang anak laki-laki jatuh ke dalam lubang bekas penambangan batubara, maka pemerintah mulai mengambil tindakan. Pemerintah memutuskan untuk memberi ganti-rugi atau membeli kota dan melakukan relokasi penduduknya hingga menghabiskan dana $US 42 juta dolar. Jumlah biaya yang dipertimbangkan lebih menguntungkan daripada harus memadamkan api bumi, yang diperkirakan bisa mencapai $US 500 juta dolar.

"Mereka menyelamatkan banyak uang dengan relokasi," papar David DeKok penulis buku "Unseen Danger: A Tragedy of People, Government, and the Centralia Mine Fire"[1]

The Town That Was sebagai film dokumenter tentang bencana telah berhasil menggambarkan efek kebakaran dari aktivitas penambangan, kemudian aksi relokasi penduduknya, penggusuran bangunan dan monumen kota dan haru biru sebelas sisa penduduk Centralia, yang menggelandang, kehilangan hak atau properti di kota di mana mereka telah menghabiskan masa hidupnya.

"Kita bisa dipaksa keluar kapan saja," jelas salah satu penduduk yang tersisa. "Aku tidak percaya pada pemerintah, mereka telah banyak berbohong kepada kami". Suatu kisah tragis, tetapi dirangkai dalam visual yang indah tentang kota yang hancur oleh api batu bara dan ditinggalkan oleh pemerintah Amerika Serikat [2].



Kejadian itu mirip dengan tragedi Lumpur Lapindo di Sidoarjo Jawa Timur, Indonesia. Mereka juga direlokasi oleh pemerintah, kehilangan tempat-tinggal, lahan dan mata pencaharian. Ada korban yang diuntungkan, misalnya mendapat penggantian rumah baru yang lebih baik daripada yang dimiliki sebelumnya, tetapi ada juga yang masih tinggal di penampungan dan belum selesai masalahnya.

Seorang Gary Hayes, produser film dokumenter asal Amerika Serikat telah menjalin fakta dan pandangan dari berbagai sisi tentang Lumpur Sidoarjo. Film dokumenter Lumpur Sidoarjo ini berjudul 'Mud Max: Investigative Documentary – Sidoarjo Mud Volcano Disaster', yang pertama kali diputar di The School of Earth and Space Exploration di Scottsdale, AS, tahun lalu (13/11/2009).

Hanya saja film dokumenter Lumpur Lapindo Sidoarjo ini tidak sepenuhnya "netral", karena tidak bercerita tentang korban-korban yang belum selesai masalahnya sebagai penyeimbang bagi mereka yang diuntungkan [3], tidak seperti dalam The Town That Was.

Source:
[1] The Centralmine Fire, http://www.centraliaminefire.com/
[2] The Town That Was Review, http://www.greenmuze.com/reviews/films/2065-the-town-that-was-review.html
[3] Menyaksikan Premier Mud Max: Film Dokumenter Lumpur Sidoarjo.

Digg
Stumbleupon
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Related Posts with Thumbnails

Followers

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP