Banjir Pasuruan: Kenali, Bertindak dan Tetap Waspada Terhadap Bahaya Banjir | b l o g o d r i l

13 January 2010

Banjir Pasuruan: Kenali, Bertindak dan Tetap Waspada Terhadap Bahaya Banjir



Sabtu (9/1/2010) lalu Pasuruan diterjang banjir besar. Sudah empat hari berjalan hingga sekarang banjir masih menggenang, warga mulai merasakan efeknya. Mulai keterbatasan fasilitas umum di tempat pengungsian dan aksesibilitas mereka yang belum pulih sepenuhnya.

Media online Radar Bromo [1] melaporkan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan menyebut untuk sementara infrastruktur yang utama perlu dibenahi adalah tanggul Manaruwi dan aliran sungai Kedunglarangan. Kedua hal tersebut dianggap paling penting untuk mencegah datangnya banjir kembali. Sebab apabila tidak segera dibenahi, dengan adanya curah hujan yang tinggi banjir diprediksi masih datang kembali. Terlebih lagi di akhir Januari nanti air laut diperkirakan meninggi. Salah satu penyebab banjir ternyata sampah. Sungai Kedunglarangan seringkali tersumbat alirannya oleh sampah sehingga mengakibatkan banjir. Untuk mengatasi sampah tersebut, Pemkab menggunakan sebuah crane yang dioperasikan sejak Minggu (10/1) lalu.

Barangkali ini hanya bersifat penanggulangan sementara, karena tanpa kesadaran dari masyarakat sendiri untuk tidak membuang sampah di sungai Kedunglarangan, maka upaya pengendalian banjir tidak akan berhasil. Memang, selama ini masih banyak masyarakat yang membuang sampah di sekitar sungai. "Kami pun berharap supaya sampah-sampah milik warga jangan dibuang ke sungai lagi karena bisa menimbulkan penyumbatan lagi," terang Soenarto, seperti yang dilaporkan Radar Bromo.

Banjir yang terjadi di Kabupaten Pasuruan pada empat hari yang lalu telah menimbulkan korban meninggal sebanyak 4 orang: 3 orang di Kecamatan Bangil dan 1 orang lainnya di Kecamatan Pandaan. Banjir disebabkan karena meluapnya Kali Kedung Larangan, Kali Welang dan Kali Gempong akibat curah hujan yang tinggi dan terus menerus serta air limpahan dari Kabupaten Malang. Sebanyak 5.700 unit rumah penduduk terendam di delapan kecamatan di wilayah kabupaten Pasuruan. Saat ini dilaporkan kondisi air telah berangsur-angsur surut.

Kenali Penyebab Banjir

Terjadinya peristiwa banjir di awal tahun 2010 tersebut, faktanya mengulang kejadian banjir bandang yang menimpa Kabupaten Pasuruan pada 2008. Dari rangkaian pengalaman bencana, alangkah baiknya jika kita dapat belajar dari pengalaman. Berawal dari mengenali penyebab banjir itu sendiri. Sadar atau tidak, seringkali kita melakukan tindakan yang bisa menjadi penyebab banjir. Padahal kita tahu itu sebaiknya tidak dilakukan.

Nah, berikut ini hal-hal yang menyebabkan banjir yang perlu kita kenali [2], sekedar mengingatkan anda:

  • Curah hujan tinggi.

  • Permukaan tanah lebih rendah dibandingkan muka air laut.

  • Daerah banjir terletak pada suatu cekungan yang dikelilingi perbukitan dengan aliran air keluar (outlet)sempit.

  • Banyak pemukiman yang dibangun pada dataran sepanjang sungai / bantaran sungai.

  • Aliran sungai tidak lancar akibat banyaknya sampah serta bangunan di pinggir sungai.

  • Kurangnya tutupan lahan di daerah hulu sungai.


  • Tindakan Untuk Mengurangi Dampak Banjir

    Tindakan ini memerlukan keterpaduan berbagai pihak, sesuai dengan fungsi dan peran masing-masing, masyarakat, lembaga usaha, pemerintah daerah dan pusat, lembaga non pemerintah dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya. Mudah diucapkan tetapi masih menjadi masalah di negara kita, yaitu koordinasi. Namun dengan adanya Badan (Koordinasi) Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sudah sepatutnya masalah koordinasi ini dapat dipecahkan dengan baik.

    Berikut ini tindakan untuk mengurangi dampak banjir:

  • Penataan daerah aliran sungai secara terpadu dan sesuai fungsi lahan.

  • Pembangunan sistem pemantauan dan peringatan dini pada bagian sungai yang sering menimbulkan banjir.

  • Tidak membangun rumah dan pemukiman di bantaran sungai serta daerah banjir.

  • Tidak membuang sampah ke dalam sungai. Mengadakan Program Pengerukan sungai.

  • Pemasangan pompa untuk daerah yang lebih rendah dari permukaan laut.

  • Program penghijauan daerah hulu sungai harus selalu dilaksanakan serta mengurangi aktifitas di bagian sungai rawan banjir.


  • Apa yang seharunya kita kenali dan yang disarankan tersebut, barangkali kita sudah tahu, tidak ada hal yang baru lagi. Memang benar, karena yang paling penting adalah tindakan nyata kita, kebiasaan kita dan komitmen kita, sekecil apapun, untuk mengurangi dampak banjir!

    Akhirnya, mungkin anda perlu tahu dimana banjir berpotensi terjadi, dengan melihat peta-peta perkiraan bencana banjir, seperti di website Badan Nasional Penanggulangan Bencana ini. Yang terakhir ini membantu kita untuk tetap waspada terhadap bahaya banjir.
    Prakiraan Banjir di Jawa Timur pada Januari 2010, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, 2010


    Sources:
    [1]. Jawa Pos Online, http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=137450
    [2]. Bakornas Penanggulangan Bencana http://www.bakornaspb.go.id/website/index.php?option=com_content&task=view&id=27&Itemid=64

    Digg
    Stumbleupon
    Delicious
    Technorati
    Twitter
    Facebook
    Related Posts with Thumbnails

    Followers

      © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

    Back to TOP