Mol Terbilang Dodol Menghilang!: Istimewanya Bikin Dodol di Rumah Engkong | b l o g o d r i l

17 September 2009

Mol Terbilang Dodol Menghilang!: Istimewanya Bikin Dodol di Rumah Engkong

Menjelang hari raya Idul Fitri keluarga Engkong pada ngumpul. Rumah kayu Engkong di pinggiran Jakarta Selatan ini terasa meriah oleh canda dan celoteh cucu-cucunya. Rugaye, satu-satunya anak perempuan Engkong, lagi sibuk di dapur. Dia membuat dodol dibantu tetangge satu kampung, 4 orang. Mereka patungan bahan untuk bikin dodol sebagai hidangan lebaran. Suatu bentuk kerjasama warga betawi yang akurat agar dodol menjadi nikmat.


Inilah tradisi warga Betawi, setiap keluarga diharuskan membuat dodol sendiri. Jenis makanan ini mutlak kudu diadain. Ketupat boleh absen dari menu, asalkan jangan dodol.

Karena ingin tahu, saya samperin Rugaye: " Sibuk, nih... lagi masak apa, Ye ?"
"Eh, pak Pao..ini kami lagi bikin dodol betawi" sahut Rugaye menengok sebentar, lalu meneruskan bikin adonan dodol diatas tungku api.

"Wah sudah tradisi Idul Fitri, ya...dodol, rengginang dan kue kembang goyang!" celetuk saya sambil menyebutkan beberapa hidangan khas betawi, seingat saya saja, " Gimana, dong ..cara bikin dodol ini?"

Sambil memasak Rugaye menjelaskan : " Begini pak Pao.., ini bahannya, ketan hitam, kelapa dan gula. Dibutuhkan sedikitnya 20 liter tepung ketan hitam dan 40 butir kelapa."

" Wah, lumayan banyak juga bahannya" potong saya.

" Mangkanye, kami patungan membuatnye," jawab Rugaye dan melanjutkan resep tradisinya " Mulanye kupas dulu kulit kelapa. Kemudian diparut. Lalu diperas jadi santan. Udah itu, ketan hitam dihaluskan menjadi tepung dan disaring"

" Oh, begitu..jadi yang di dalam wajan ini tepung ketan hitam, ya? " tebak saya, " Hmm..wangi lagi, aromanya..."

"Iye, ini tepung ketan hitam dicampur dengan santan kelapa serta gula. Agar wangi, tadi ditambah vanili" Rugaye sigap menjawab.

Singkatnya, saya tahu kalau memasak dodol itu memerlukan waktu yang cukup lama, sekitar 9 jam. Memasaknya diatas tungku dengan kayu bakar dari batang pohon rambutan.

Kata Rugaye, "Nah, kiat penting yang kudu diperhatiin dalam memasak dodol tuh..... pengapiannye"

Menurutnya, api harus rata dan dijaga agar tidak terlalu kecil dan juga tidak terlalu besar. Agar dodol matang rata, harus selalu diaduk. Setelah masak dodol didinginkan, lalu dikemas rapi dan kini siap dihidangkan saat hari raya Idul Fitri nanti.

Memasak dodol di rumah Engkong termasuk istimewa. Apa istimewanya ?

Pertama karena harga bahan dodol seperti terigu, gula aren, kelapa semakin mahal. "Beloman lagi nyari kayu bakar kian susah didapet", ujar Engkong dengan logat khas. Menurutnya membuat dodol harus memakai kayu, seperti kayu rambutan itu, untuk mendapat rasa gurih.

Kedua, para peracik dodol semakin berkurang, banyak yang telah berusia lanjut. Sedangkan kaum muda betawi sekarang enggan repot!

Nampaknya tradisi betawi asli ini, pada beberapa tahun terakhir, mulai pudar dan "ala betawi" tidak kental lagi!

Masih teringat cerita Engkong, kalau warga Betawi ini sudah mulai meninggalkan tradisi, sepi dari hidangan khas betawi seperti wajik, semur rebung, dan dodol betawi.

"Warga betawi udah berubah pribadi," ungkap Engkong saat itu, " Acara tabuh bedug, bakar petasan dan tukar rantang udah jarang!"

Untuk bakar petasan memang ada larangan pemerintah, sehingga warga betawi asli tidak lagi membunyikan "meriam lodong" pada malam takbiran. Padahal bakar petasan dan meriam lodong (terbuat dari bambu yang diisi minyak tanah) sudah jadi identitas masyarakat Betawi tempo dulu yang harus dilestarikan.

Kebiasaan tukar menukar makanan dengan rantang (tukar rantang) semakin jarang di kawasan hunian warga betawi, seperti di pinggiran Jakarta Selatan, Condet, Depok, Cibinong dan Pondok Gede, barangkali karena kawasan tersebut kini lebih banyak dihuni kaum pendatang.

Engkong pernah amati di lingkungan rumahnya sekarang, yang juga banyak kaum pendatang, menurut dia: "sedikit sekali orang betawi asli disini karena kerabat kami banyak pindah jauh ke pinggiran Jakarta...dan teman-teman kami banyak yang sudah meninggal. Ane jadi jarang silaturahmi!"

"Banyak orang Betawi ikutan asik belanja di mol daripade bertemu saudaranye", keluhnya, "Akhirnya enggak ada yang bikin dodol, wajik termasuk juga nganterinnye ke tetangga"

Wah, kalau gitu: Mol terbilang, Dodol menghilang!


Sumber Gambar: Indosiar, Dodol Betawi Sambut Lebaran, On air : 10 Oktober 2007 Pukul 12.30 WIB

Related Posts:
1. Buka Puasa Di Rumah Engkong dengan Menu Religi dan Bir Alami Khas Betawi
2. Gotong-Gotong Rumah Si Engkong!
3. Tanaman Obat Yang Bikin Engkong Hebat!
4. Engkong, Ini Kantong Plastik Dari Singkong !


Digg
Stumbleupon
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Related Posts with Thumbnails

Followers

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP