Memaknai Umur Yang Uzur | b l o g o d r i l

30 September 2009

Memaknai Umur Yang Uzur

Seringkali mata ini tak mau kompromi, mesti sudah dibantu lensa minus 2, ketika harus baca booklet manual perangkat elektronik, indikasi obat, atau cara merangkai mainan anak bungsu saya, karena saking kecil ukuran hurufnya.

Seringkali ingatan ini memudar, ketika lupa letak kunci, kacamata, atau pernik pribadi di ruang rumah yang sempit ini.

Saya menyadari, ini alami di masa tua (aging period), dan sangat manusiawi kalau semua itu cukup disebut problem ketuaan diri.

Jadi, mengapa harus disesali apalagi harus diingkari? Saya merasa tua ketika melihat anak yang rasanya kemarin masih diantar-antar ke sekolah sekarang sudah remaja dan bisa kabur sendiri, "hang out, katanya", dengan sebaya entah kemana.

Apalagi ketika harus bercermin, tidak perlu lama-lama memperhatikan kerut di kantong mata atau semarak uban putih di kepala. Cukup beberapa menit saja untuk menggosok gigi, mencukur kumis atau jenggot. Tidak perlulah kita "menawar" - kepada Tuhan - terhadap keniscayaan terakhir ini.

Saya ingat di tulisan Agus Purwadianto, tentang dalil dalam ajaran Islam, yang mengatakan "Semua penyakit ada obatnya, kecuali penyakit tua". Kalau boleh mengartikan, dalam kaitannya dengan ketuaan diri ini, maka segala upaya manusia sudah ditentukan di awal. Suatu keniscayaan, bahwa manusia akan menjadi tua sebelum akhirnya ajal tiba. Sehingga hendaknya kita bijak bahwa harus patuh terhadap ketentuan hukum alam ini.

Memang, manusia juga memiliki hakekat sebagai "homo intelectus". Manusia mencoba "menawar" dan memundurkan batas takdirnya. Ketuaaan ingin dikendalikan, kalau bisa hidup 1.000 tahun lagi (Apa hal ini tidak menjadikan orang lain repot, kalau benar-benar terjadi?).

Kualitas hidup yang menurun akibat kerentaan coba dibangkitkan dengan kedokteran anti-ketuaan (anti aging medicine). Prototipe biomedik sebagai upaya intervensi manusia untuk mengatasi ketuaan. Tapi cukupkah kualitas hidup hanya berbicara tentang kekurangan di tubuh manusia? semisal kulit yang keriput dikencangkan atau hidung yang bengkok diharmoniskan. Jawabannya terserah kepada anda.

Umur uzur atau usia tua memang identik dengan penurunan kualitas hidup. Namun tidak hanya tubuh fisik saja, menjadi tua berarti turunnya stamina dan daya ingat. Menjadi tua bisa saja kerepotan membagi tugas dan sering gagap dalam memanfaatkan teknologi.

Bagi saya, menjadi tua, patut juga disyukuri...paling tidak teman bertambah banyak, bahkan di kalangan anak-anak muda, adik-adik kelas dan generasi belia. Menjadi tua dibawa senang saja, bisa kerja-sama dengan mereka, bisa berbagi suka (ini yang siapapun pingin), kumpul berbagi masalah (yang setiap orang juga punya). Dan, tentu saja, membaca..... dan menulis blog biar otak tetap kerja dan tidak go-blog!

Digg
Stumbleupon
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Related Posts with Thumbnails

Followers

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP