Gotong-Gotong Rumah Si Engkong! | b l o g o d r i l

20 July 2009

Gotong-Gotong Rumah Si Engkong!

Memasuki usia yang ke 69 tahun, si Engkong yang betawi asli ini masih sehat dan kuat. Bahkan baru-baru ini dia nyambat (minta bantuan) tetangga rumah petaknya untuk gotong-gotong rumah si Engkong! Tak lupa, dia mengajak saya juga.

Kenapa, mesti digotong, Nkong ? Rame-rame nyambat tetangge, pula! Rasa ingin tahu ini mendorong langkah saya menemuinya, sehari sebelum hajatan gotong-gotong rumah si Engkong.

Malam itu di rumahnya sembari duduk di tikar pandan. "Nkong, kenapa mesti pindah rumah?" tanya saya, sambil melihat-lihat langit, kerangka dan kusen rumahnya, dan bertanya dalam hati "Apa bisa ini rumah digotong?"

"Egh...gini pak Pao, memang ini petak lahan bukan milik saye" si Engkong mulai cerita, " Kemarin nyang punye udah minta Engkong pindah, katanye ini lahan mau dibikin rumah baru buat anak-nye. Lahan ini juga nggak bagus buat ditinggali......"

"Kenapa, nggak bagus Nkong?" tanya saya lagi. Terlintas di benak gambaran rumah petak si Engkong, berukuran tidak lebih 6 x 10 m2, terbuat dari kayu dan bambu dengan atap sebagian genteng dan sebagian lagi potongan seng. Berdiri di bawah rerimbunan pohon-pohon nangka, sengon, jamblang dll, barangkali pepohonan ini lebih tua dari umur rumahnya. Karena Engkong menempati rumah kayu ini sejak 10 tahun lalu.

Sambil mengelus jenggotnya yang putih, Engkong bicara pelan: " Kate orang betawi, kalo mau bikin rumah itu lebih baek di lahan milik sendiri. Boleh dimana aja asal lahannya milik sendiri, dan jangan membangun di tanah nyang dikeramatkan atau seorang anak bikin rumah di sebelah kiri bangunan rumah orang tuanye, nah ini pantangan..."

"Nkong, udah cukupkah saudara dan tetangga yang ngebantuin besok?" tanya saya lagi.

"Ah, cukup dah.., kami ini punye tradisi Andilan!" tukas si Engkong, " Kemaren malem Jum'at, tetangge di sekitar kebun ini dan kerabat Engkong udah bertemu. Kita kumpul seketurunan keluarga betawi untuk mindahin rumah Engkong. Gotong-royong kate orang dulu. Malah ada kerabat Engkong nyang mau bawain genteng dan papan, ntar sekalian perbaikan di tempat baru."

Andilan rupanya semacam pertemuan diantara kerabat yang masing-masing anggota yang hadir akan menyanggupi membantu sesuai dengan kemampuan. Rupanya sifat gotong-royong masih mendarah daging bagi masyarakat betawi ini, paling tidak di kerabat si Engkong.

"Eh, terus..pindahnya kemana Nkong?" tanya saya.

Engkong membesarkan lampu minyak-nya yang mulai meredup, dengan rokok terselip di bibirnya yang keriput, dia menyahut: " Ada, tuh..lahan milik Engkong sendiri di kampung sebelah, nyang dulu ditempati si Rogaye anak sulung Engkong. Waktu anak ini kawin, Engkong musti nyiapin rumah, pan tidak bagus kalau dia masih tinggal serumah dengan kami, orang tuanye. Karena, Engkong bukan orang berduit, mangkanye dikasih aja itu rumah buat ditinggali. Kebetulan, juragan nyang punya tanah ini minta tolong nungguin tanahnye...jadi dah, Engkong bikin rumah di sini"

Rumah Engkong ini sangat sederhana. Terbuat dari bambu, hanya tiang guru, dinding papan dan daun jendela dari kayu. Kayu nangka yang berwarna kuning bahannya. Seingat saya, jenis kayu nangka memang tidak boleh dipakai untuk membuat kontruksi di bagian bawah rumah orang betawi. Karena kayu ini pantangan dilangkahi. Jika dilangkahi, menurut kepercayaan betawi, akan mengakibatkan sakit kuning (mungkin, karena warna kayunya yang kuning itu). Pasti ada kearifan tradisional dalam hal ini, tapi saya belum menemukan jawabnya.

Sama halnya dengan cerita si Engkong dulu, tentang pohon Cempaka dan Asem di kebunnya. Katanya, kalau jenis kayu cempaka hendaknya dipakai untuk kusen pintu bagian atas, maknanya agar pemilik rumah senantiasa dihormati dan disenangi tetangga. Sedangkan jenis kayu asem dihindari karena pantang digunakan sebagai bahan bangunan. Sifat asem berpengaruh terhadap harmonisasi antara pemilik rumah dengan tetangganya, ini masih tafsir tradisi betawi. Malah tutur Engkong lagi, jika kayu asem yang dipakai maka rumah mempunyai kesan kumal, gersang dan tidak berwibawa.

Pembagian ruang rumah Engkong, sangat sederhana, yaitu ruang tamu, kamar tidur dan dapur. Kamar tidurnya sebenarnya bilik yang ada di ruang bagian tengah rumah yang disekat jadi dua. Ruang tengah ini tempat engkong meletakkan barang-barangnya, semacam ruang keluarga. Kamar tidurnya cuma satu, untuk Engkong yang telah hidup sendiri. Kalau saudara atau anaknya datang, paling disiapkan tikar pandan di ruang tengah untuk tempat tidur mereka.

Pantas, dengan design rumah se-simple ini, so pasti, mereka sekerabat Engkong bisa menggotongnya. Material bambu dan kayu yang terkunci oleh pasak kayu atau ikatan tali sabut memberikan kelenturan ketika digotong. Tanpa repot membongkarnya, tanpa polusi debu bongkaran rumah. Rumah petak selaras alam! dan dipastikan rumah si Engkong ini akan tiba di tempat baru seperti sediakala.

" Gimana, pak Pao, bisa ikut besok....?" tanya si Engkong berharap.

" Tentu kong, besok saya ikut gotong-gotong rumah Engkong!" sahut saya cepat-cepat, khawatir mengecewakannya.

Engkongpun berterima-kasih dan menyilahkan saya menyeruput minuman favorit kita berdua, air jahe-merah yang hangat. Selamat!

Related Posts:
1.Tanaman Obat Yang Bikin Engkong Hebat!
2.Engkong, Ini Kantong Plastik Dari Singkong

Digg
Stumbleupon
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Related Posts with Thumbnails

Followers

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP