Sisi Lain Perubahan Iklim: Adaptasi Untuk Masyarakat Pesisir (#3) | b l o g o d r i l

14 June 2009

Sisi Lain Perubahan Iklim: Adaptasi Untuk Masyarakat Pesisir (#3)

Salah satu wilayah yang akan menderita akibat perubahan iklim adalah lingkungan pesisir. Pesisir, delta pasang-surut, muara sungai, rawa-pesisir, laguna, terumbu karang sangat rentan dengan naiknya muka air laut. Memang hingga saat ini masih terjadi pro dan kontra tentang besaran kenaikan muka air laut. Sampai dengan tahun 2100, kenaikan muka air laut, menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) diperkirakan: 9 - 88 cm, kemudian dikoreksi lagi menjadi 18 - 59 Cm, tetapi menurut RealClimate bisa lebih dari 18-59 cm.

Berapapun besarnya kenaikan muka air laut tergantung dari laju pemanasan yang berbeda-beda di setiap wilayah di dunia. Laju pemanasan ini diakibatkan dari dampak mencairnya es di kutub (glaciers) dan penjalaran panas dalam air laut.

Kerusakan pesisir akan mengancam kehidupan 50 juta jiwa manusia, lebih dari 50 % jumlah penduduk dunia, yang tinggal di dataran rendah pantai di Asia Timur, seperti Indonesia, Vietnam dan Jepang. Naiknya muka air laut setinggi 10 - 25 cm akan menenggelamkan pulau-pulau kecil. Bagaimana kalau naiknya sampai 1 meter? Kalau yang terakhir ini terjadi maka dapat mengakibatkan hilangnya pulau yang lebih besar atau daratan.

Dampak kenaikan air laut menjadikan infrastruktur pantai rusak karena terkena abrasi pantai. Akibat selanjutnya penduduk pantai akan kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian. Wilayah pesisir di Indonesia yang rawan kenaikan muka air laut adalah pantai Utara Pulau Jawa, Pantai Timur Sumatera, Pantai Selatan dan Timur Kalimantan, Pantai Barat Sulawesi dan pantai Selatan Papua.

Ketika dihadapkan pada berbagai dampak perubahan iklim tersebut, Laporan UNDP Indonesia (2007) menyarankan, agar masyarakat di wilayah pesisir memilih tiga strategi dasar : ‘berlindung’, ‘mundur’, atau ‘melakukan penyesuaian’. Berikut ini dituliskan kembali ketiga strategi tersebut:

1. Membuat perlindungan – Untuk perlindungan, pilihan yang tampaknya paling meyakinkan barangkali adalah mendirikan bangunan yang kukuh seperti tanggul di laut, namun selain sangat mahal tindakan ini dapat memberikan efek samping seperti erosi dan sedimentasi. Karena itu, umumnya ada berbagai pilihan yang lebih ‘lunak’ seperti menciptakan atau memulihkan wilayah rawa pesisir dan menanam berbagai varietas mangrove dan vegetasi yang dapat mengatasi perubahan salinitas yang ekstrem.

2.Mundur – Mundur hanya soal pindah tempat saja. Kebanyakan para pemilik rumah dan bisnis dapat melakukannya dengan upaya mereka sendiri, meski pemerintah setempat juga akan berperan dalam menetapkan ‘wilayah untuk mundur’ yang mempersyaratkan pembangunan baru dilakukan dalam jarak tertentu dari sisi laut.

3.Melakukan penyesuaian – Melakukan penyesuaian dapat dilakukan dengan berbagai cara. Barangkali, misalnya,dengan membiakkan berbagai jenis ikan ke muara, wilayah mulut sungai dan laguna, serta mengembangkan berbagai bentuk akuakultur yang baru. Masyarakat pesisir juga akan membutuhkan sistem peringatan yang lebih baik untuk berbagai peristiwa cuaca ekstrem disertai rencana evakuasi kedaruratan untuk relokasi bila terjadi kedaruratan mendadak.


Masyarakat akan bertindak serta-merta jika ada situasi darurat. Namun, semua strategi tersebut bukankah menjadi tanggung jawab Pemerintah, Daerah dan Pusat.Untuk mewujudkannya, sudah selayaknya Pemerintah Daerah atau Pusat memahami kearifan tradisional atau keahlian lokal masyarakat.

Upaya pemerintah untuk berkonsultasi dengan masyarakat menjadi jalan terbaik sebelum masyarakat bertindak dengan keahlian mereka mewujudkan strategi tersebut. Insentif dalam upaya penanggulangan abrasi pantai atau erosi dapat diberikan pemerintah kepada para pengelola pariwisata, hotel dan resor-resor di wilayah pesisir pantai. Fasilitasi investasi dan mendukung setiap upaya penyelamatan pantai dengan bantuan teknis, pengelolaan dan bantuan lain, dapat menjadi dorongan bagi masyarakat.

Tidak ketinggalan, Lembaga Swadaya Masyarakat didorong untuk terus melakukan identifikasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap dampak dari perubahan iklim tersebut.

Suatu langkah terpadu atas dasar kesadaran bersama untuk terus beradaptasi, mungkin mudah dituliskan tetapi seringkali sulit diwujudkan.


Sumber:
UNDP Indonesia, 2007. Sisi Lain Perubahan Iklim: Mengapa Indonesia harus beradaptasi untuk melindungi rakyat miskinnya.

Related Posts:
1. Sisi Lain Perubahan Iklim: Adaptasi oleh Para Petani (#2)
2. Sisi Lain Perubahan Iklim: Beradaptasi Diatas Kearifan Tradisional (#1)

Digg
Stumbleupon
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Related Posts with Thumbnails

Followers

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP