Sisi Lain Dari Perubahan Iklim: Beradaptasi Dengan Ketersediaan Air (#4) | b l o g o d r i l

16 June 2009

Sisi Lain Dari Perubahan Iklim: Beradaptasi Dengan Ketersediaan Air (#4)

Semakin naiknya suhu dan perubahan pola curah hujan telah dirasakan di Indonesia dalam dua dasawarsa terakhir.Kenaikan suhu udara ini berpengaruh pada meningkatnya evaporasi dan evapotranspirasi yang pada gilirannya ketersediaan air kian menipis.

Indonesia tergolong negara ke-lima terkaya air, dari 10 negara di dunia [1], sbb: 1) Brazil, 8.233 km3/th; 2) Russia, 4.498 km3/th; 3) Canada, 3.300 km3/th; 4)USA, 3.069 km3/th; 5) Indonesia, 2.838 km3/th; 6)China, 2.829,6 km3/th; 7) Colombia, 2.132 km3/th; 8) Peru, 1.913 km3/th; 9) India, 1.907,8 km3/th; dan 10) Zaire, 1.020 km3/th.

Dari 2.838 km3/tahun volume air di Indonesia tersebut, yang tersedia untuk dimanfaatkan oleh penduduknya hanya 16,8 km3/tahun atau 0,6 % dari total volume air. Rasio ini sebanding dengan ketersediaan air di dunia yang hanya 0,4% dari total volume air di dunia.

Ketersediaan air per kapita di Indonesia [2], sbb:

1.Sumatera = 18,4 ribu m3/kapita/tahun
2.Jawa = 1,6 ribu m3/kapita/tahun
3.Kalimantan = 98,8 ribu m3/kapita/tahun
4.Sulawesi = 18,3 ribu m3/kapita/tahun
5.Bali, NTB dan NTT = 5,5 ribu m3/kapita/tahun
6.Papua dan Maluku = 251,5 ribu m3/kapita/tahun

Melihat data tersebut, dapat dikatakan bahwa ketersediaan air di Indonesia melimpah, namun pemenuhan kebutuhan air sering mengalami kendala (misalnya kerusakan waduk, irigasi dan perpipaan). Di lain pihak kebutuhan air diberbagai sektor semakin meningkat, demikian juga beban limbah terhadap sumber air sebagai dampak kegiatan manusia.

Berkurangnya ketersediaan air akibat dampak perubahan iklim telah mengurangi kinerja pelayanan penyediaan air kepada masyarakat, baik dari sisi pasokan maupun permintaan. Dari sisi pasokan telah ditunjukkan dengan menipisnya ketersediaan air sehingga terjadi kekeringan berkepanjangan. Implikasinya berpengaruh terhadap produksi pangan,transportasi air, dan berbagai sumber mata pencarian yang mengandalkan air. Dari sisi permintaan, pemanasan global akan meningkatkan kebutuhan air masyarakat dan mempercepat penguapan dari permukaan tanaman dan dari sumber-sumber air seperti kolam dan danau. Pada akhirnya air yang tersedia untuk dimanfaatkan masyarakat semakin berkurang.

Selain itu, jika ekosistem yang mengatur siklus hidrologi tidak dipelihara, maka akan terjadi ketidak-seimbangan volume air, seperti masyarakat mengalami kekurangan air di musim kemarau dan kebanjiran di musim hujan. Dan, hidup tidak lagi selaras alam!

Untuk itu diperlukan pendekatan yang lebih menekankan pentingnya memelihara ekosistem. Pendekatan yang menyeluruh melalui pemeliharaan berbagai sarana pemasok air yang disebut dengan istilah 'pengelolaan air secara terpadu" (Integrated Water Resources Management).

Pengelolaan air secara terpadu adalah praktek dalam membuat keputusan dan mengambil tindakan dengan mempertimbangkan berbagai aspek dalam pengelolaan air [3].Tujuannya adalah mengelola dan mengembangkan sumberdaya air secara berkelanjutan. Sejalan dengan definisi "pengelolaan air secara terpadu" ini, maka pertimbangan atas berbagai persoalan pengelolaan air tentu tidak boleh diabaikan, seperti penggundulan hutan, pengelolaan air untuk irigasi dan hubungan keduanya, serta pengurasan air tanah untuk keperluan rumah tangga, bisnis, dan pertanian.

Serangkaian tindakan untuk menjamin pasokan air dengan cara meningkatkan volume pasokan air dapat dipilih, antara lain:
– memperbaiki waduk, misalnya, menambal saluran.
- menampung air hujan.
- mengurangi kebutuhan air, misalnya, mengurangi kebocoran dari pipa-pipa .
- melakukan lebih banyak upaya untuk memproses air limbah menggunakan ‘infrastruktur ramah lingkungan’, contohnya saringan pasir dan mengelola air limbah dengan tanaman rawa (wetlands).

Di Indonesia banyak waduk menampung air lebih banyak daripada yang dibutuhkan untuk kebutuhan manusia, sementara di tempat lain mengalami kekurangan yang parah, terutama waduk-waduk di Jawa dan Nusa Tenggara. Dalam kasus kasus seperti ini,'pengalihan air antar waduk' akan dapat menyeimbangkan distribusi air dari wilayah yang berkelebihan ke daerah yang mengalami defisit [4].

Memang, untuk hidup selaras alam dibutuhkan keterpaduan para pihak dalam mengelola keseimbangan berbagai kebutuhan manusia terhadap sumberdaya alam itu sendiri, termasuk air.

Sources :
[1] Pasific Institute, 2007. The World’s Water 2008-2009, download: http://www.worldwater.org/data.html, 15 June 2009.
[2] Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Unit Data Sumber Daya Air, PU-net Departemen PU, http://www.pu.go.id/satminkal/index.asp?Site_id=10306
[3] Waterencyclopedia, http://www.waterencyclopedia.com/Hy-La/Integrated-Water-Resources-Management.html
[4] UNDP Indonesia, 2007. Sisi Lain Perubahan Iklim: Mengapa Indonesia harus beradaptasi untuk melindungi rakyat miskinnya.

Related Posts:
1. Sisi Lain Perubahan Iklim: Adaptasi Untuk Masyarakat Pesisir (#3)
2. Sisi Lain Perubahan Iklim: Adaptasi oleh Para Petani (#2)
3. Sisi Lain Perubahan Iklim: Beradaptasi Diatas Kearifan Tradisional (#1)



Digg
Stumbleupon
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Related Posts with Thumbnails

Followers

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP