Sisi Lain Perubahan Iklim: Beradaptasi Diatas Kearifan Tradisional (#1) | b l o g o d r i l

30 May 2009

Sisi Lain Perubahan Iklim: Beradaptasi Diatas Kearifan Tradisional (#1)

"Satu-satunya cara bagi kita semua untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim adalah dengan beralih ke bentuk-bentuk pembangunan yang lebih berkelanjutan – belajar untuk hidup dengan cara-cara yang menghargai dan serasi dengan lingkungan hidup kita. Mulai dari desa yang paling terpencil hingga ke perkotaan yang paling modern kita semua merupakan satu kesatuan sistem alam yang kompleks, dan rentan terhadap berbagai kekuatan alam. Begitu iklim berubah, kita mesti berubah pula – dengan cepat"
(United Nations Development Programme - Indonesia, 2007)

Tahukah anda, bahwa perubahan iklim menghambat upaya orang miskin untuk membangun kehidupan yang lebih baik, sehat, mandiri bagi diri sendiri dan keluarga mereka. Perubahan iklim berdampak menyengsarakan mereka, gagal panen karena musim tanam tidak menentu. Kerja cari nafkah sehari-hari mangkir gara-gara banjir. Air laut menyusup ke delta sungai menihilkan tangkapan ikan para nelayan. Orang miskin ini tambah bangkrut dan anak-anaknya menderita kurang gizi akut. Kalut...

Ini bukan cerita atau berita perubahan iklim kita yang biasa. Indonesia yang dicap sebagai penyumbang utama pemanasan global hanya karena penggundulan hutan, kebakaran hutan dan susutnya lahan-lahan rawa sehingga serapan karbondioksida menghilang. Kita, bangsa Indonesia, "disalahkan" karena itu semua, padahal faktanya belum tentu demikian. Malah kita juga akan menjadi korban.

Ya, bangsa Indonesia menjadi korban utama perubahan iklim! Bangsa yang sebagian besar masyarakatnya masih tergolong miskin atau rentan miskin harus menghadapi perubahan iklim yang sedang terjadi. Persoalan bertahan hidup sehari-hari adalah beban mereka, selanjutnya dampak perubahan iklim tersebut akan menambah beban mereka semakin tidak terpikulkan lagi. Karena dampak perubahan iklim, jika kita tidak belajar beradaptasi, maka jutaan rakyat Indonesia akan menanggung akibat buruknya.

United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia (2007) dalam laporannya berjudul "Sisi lain perubahan iklim: Mengapa Indonesia harus beradaptasi untuk melindungi rakyat miskinnya" telah meringkas beberapa ancaman utama perubahan iklim terhadap rakyat miskin, antara lain:

1. Sumber nafkah – Pengaruh perubahan iklim lebih berat menimpa masyarakat paling miskin. Banyak di antara mereka mencari nafkah di bidang pertanian atau perikanan sehingga sumber-sumber pendapatan mereka sangat dipengaruhi oleh iklim.Apakah itu di perkotaan ataukah di pedesaan mereka pun umumnya tinggal di daerah pinggiran yang rentan terhadap kemarau panjang, misalnya, atau terhadap banjir dan longsor. Terlalu banyak atau terlalu sedikit air merupakan ancaman utama perubahan iklim. Dan ketika bencana melanda mereka nyaris tidak memiliki apapun untuk menghadapinya.

2. Kesehatan – Curah hujan lebat dan banjir dapat memperburuk sistem sanitasi yang belum memadai di banyak wilayah kumuh di berbagai daerah dan kota, sehingga dapat membuat masyarakat rawan terkena penyakit-penyakit yang menular lewat air seperti diare dan kolera. Suhu tinggi dan kelembapan tinggi yang berkepanjangan juga dapat menyebabkan kelelahan akibat kepanasan terutama di kalangan masyarakat miskin kota dan para lansia. Dan suhu yang lebih tinggi juga memungkinkan nyamuk menyebar ke wilayah-wilayah baru - menimbulkan ancaman malaria dan demam berdarah dengue.

3. Ketahanan pangan – Wilayah-wilayah termiskin juga cenderung mengalami rawan pangan. Beberapa wilayah sudah amat
rentan terhadap berubah-ubahnya iklim. Kemarau panjang diikuti oleh gagal panen di Nusa Tenggara Timur, misalnya, sudah menimbulkan akibat yang parah dan kasus kurang gizi akut tersebar di berbagai daerah di seluruh provinsi ini.

4. Air – Pola curah hujan yang berubah-ubah juga mengurangi ketersediaan air untuk irigasi dan sumber air bersih. Di wilayah pesisir, kesulitan air tanah disertai kenaikan muka air laut juga akan memungkinkan air laut menyusup ke sumber-sumber air bersih.

Lalu bagaimana ini? Apa yang dapat kita lakukan terhadap semua ini? Mitigasi!!
Sejauh ini, memang mitigasi yang menjadi perhatian utama terhadap perubahan iklim, seperti upaya-upaya penurunan karbondioksida dan mengurangi jejak-jejak emisi karbondioksida.

Tetapi bagi rakyat kecil yang miskin, andil terhadap emisi gas tersebut tentu saja juga kecil. Sehingga tidak adil jika mereka makin menderita karena persoalan kondisi lingkungan hidupnya. Tentunya, bagi kita, prioritas yang utama dan paling mendesak adalah menemukan berbagai cara untuk mengatasi kondisi lingkungan hidup yang baru ini.

Beradaptasi !

Kearifan tradisional adalah suatu bentuk adapatasi. Adaptasi yang selaras alam atau lingkungan hidup, bukanlah hal yang baru. Karena sejatinya telah banyak dilakukan oleh leluhur bangsa kita, banyak orang yang telah berpengalaman dalam 'adaptasi’ ini. Orang-orang yang tinggal di daerah yang rawan banjir,misalnya, sejak dulu sudah membangun rumah panggung. Para petani di wilayah yang sering mengalami kemarau panjang sudah belajar untuk melakukan diversifikasi pada sumber pendapatan mereka, misalnya dengan menanam tanaman pangan yang lebih tahan kekeringan dan dengan mengoptimalkan penggunaan air yang sulit didapat, atau bahkan berimigrasi sementara untuk mencari kerja di tempat lain.

Laporan UNDP Indonesia tersebut juga menggaris-bawahi, bahwa yang masih perlu dilakukan sekarang ini adalah mengevaluasi dan membangun di atas kearifan tradisional yang sudah ada itu untuk membantu rakyat melindungi dan mengurangi kerentanan sumber-sumber nafkah mereka akibat dampak perubahan iklim.

Sumber:
United Nations Development Programme -Indonesia (2007). Sisi lain perubahan iklim: Mengapa Indonesia harus beradaptasi untuk melindungi rakyat miskinnya.


Digg
Stumbleupon
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Related Posts with Thumbnails

Followers

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP