Social Media dan Manfaatnya sebagai Media Baru | b l o g o d r i l

08 March 2009

Social Media dan Manfaatnya sebagai Media Baru

Tak pelak lagi, di Indonesia seperti halnya di belahan Dunia lain, pengguna internetnya telah akrab dengan Facebook, Twitter, My Space, LinkedIn dan lainnya. Beberapa sebutan terakhir ini boleh disebut sebagai “media-baru” dalam melakukan interaksi atau persahabatan diantara para penggunanya, sehingga populer dengan sebutan Social Media.

Apa yang membedakannya dengan “media-lama”?

Brian Eisenberg telah menyimpulkan secara singkat bahwa Facebook, Twitter dan sejenisnya adalah suatu platform untuk berinteraksi dan menjalin jaringan tetapi bukan untuk kepentingan berita (content) atau iklan. Oleh karena itu dapat disebut sebagai Media Social atau Social Media.

Ini yang membedakan dengan media tradisional seperti – media cetak, siaran yang merupakan platform untuk menyampaikan iklan atau berita (content). Lebih jelasnya dapat dibaca postingan Brian di dalam artikel Mark Rizzn Hopkins berjudul Just What Social Media, Exactly ?

Sekalipun demikian karakter Social Media, seperti Facebook dan Twitter itu, masih bisa diperdebatkan, yaitu ketika para penggunanya yang sedang berinteraksi ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan atau uang, seperti menyisipkan iklan/promosi produk atau kampanye politik. Kalau begini Social Media ini sama saja dengan koran, radio atau televisi (media tradisional).

Bingung ? Baiklah, coba kita lacak pengertian media itu sendiri.

Apa itu media ?

Dalam artikelnya tersebut Hopkins jelas menyatakan apapun itu sebutannya: “media-lama”, “media- baru” atau social media, pada hakekatnya mempunyai kesamaan makna bahwa media tidak merujuk pada pesan (message) tetapi lebih pada bagaimana cara pesan itu disampaikan (“.... the methods by which that message is conveyed” ).

Lebih lanjut, menurut Hopkins, bahwa Social Media adalah suatu istilah yang melekat pada platform “media baru” namun tetap menyiratkan keterbukaan sistem, seperti Facebook dan sejenisnya, yang diyakini sebagai media jejaring sosial. Semula idenya memang sebagai suatu kerangka atau platform dengan komponen-komponen sosial dan saluran (channel) komunikasi publik di dalamnya. Singkatnya, Social Media juga merupakan salah satu platform dari “media-baru”.

Dalam perkembangannya khususnya Social Media dan umumnya “media baru”, seperti blog dan podcast, ternyata dapat dikomersialkan untuk memperoleh uang. Bahkan kadang saking besarnya imbalan yang didapat oleh para blogger dan podcaster maka sebutan terakhir ini dapat dijadikan profesi/pekerjaan utama (tetap).

Padahal semula tujuannya untuk berinteraksi dan menjalin jaringan sosial dan berbeda dengan “media lama” (koran, radio dan televisi) yang memang sudah jelas “menjual berita” untuk mendapatkan uang.

Bagaimana dengan pengguna “media-baru” ?

Kecenderungan terakhir ini sebaiknya juga dapat kita manfaatkan. “Media-baru” itu tidak sekedar untuk mencari teman, berkomunikasi dan bersosial. Tapi bisa dikembangkan agar kita dapat memetik keuntungan darinya melalui ide-ide kreatif. Contohnya, pembuatan widget atau plug-in untuk browser, blog, facebook dan sejenisnya dapat diperkenalkan atau dipromosikan di media-baru tersebut. Kalau perlu, portofolio desain web atau grafis dapat di-”upload” karena siapa tahu ada teman yang minta atau pesan dibuatkan.

Selain itu masih diperlukan inovasi baru terutama dalam metode (penyampaian) iklan yang cocok dengan “media-baru” ini agar dianggap lebih “bermoral”, sebaliknya tanpa dicap “amoral”, gara-gara memanfaatkan media jejaring pertemanan untuk mendapatkan uang.

Nah, salah satu blog favorit saya agar dapat menyampaikan metoda iklan yang inovatif adalah Mashable - Social Media Guide.

Digg
Stumbleupon
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Related Posts with Thumbnails

Followers

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP