Ads

09 February 2010

12 Kejadian Tsunami Yang Berarti di Indonesia

Tsunami adalah rangkaian gelombang laut yang mampu menjalar dengan kecepatan hingga lebih 900 km per jam, terutama diakibatkan oleh gempabumi yang terjadi di dasar laut. Berasal dari istilah Jepang yang artinya: gelombang (“nami”) di pelabuhan (“tsu”).

Serangkaian gelombang yang berjalan sangat jauh, melintasi ceruk-ceruk samudera, tanpa henti dengan hanya sedikit energi [2]. Istilah berkaitan dengan Tsunami, selengkapnya, dapat anda unduh: Tsunami Glossary di situs International Tsunami Information Centre (ITIC)

Tsunami akan menjulang makin tinggi ketika mendekati perairan dangkal. Gelombang tinggi tsunami ini merusak apapun yang dilalui.

Menghempaskan aneka sampah, kerangka rumah...Balok kayu dan mobil dijadikannya proyektil yang berbahaya bagi keselamatan jiwa manusia.

Kecepatan gelombang tsunami bergantung pada kedalaman laut. Di laut dengan kedalaman 7000 m misalnya, kecepatannya bisa mencapai 942,9 km/jam. yang hampir sama dengan kecepatan pesawat jet, namun di tengah samudera ketinggiannya sekitar 60 Cm, sehingga kapal-kapal yang berlayar tidak merasakan adanya Tsunami [2].

Berikut ini daftar 12 kejadian Tsunami di Indonesia, yang dianggap berarti [2]:

Sources:
[1]. ITIC, Glosary Tsunami, http://ioc3.unesco.org/itic/contents.php?id=328
[2] Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, http://portal.vsi.esdm.go.id/joomla/

Related Posts:
1. Tsunami Dapat Dideteksi dengan Kabel Serat Optik Bawah Laut
2. Tidak Perlu Resah, Bersiaplah Menghadapi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami


read more..

05 February 2010

Indeks Kinerja Lingkungan Hidup 2010: Indonesia di Peringkat 134 dari 163 Negara di Dunia.


Indonesia berada di peringkat 134 dari 163 negara di dunia, dengan nilai: 44,6, menurut 2010 Environmental Performance Index (EPI) atau Indeks Kinerja Lingkungan 2010 yang disusun oleh tim ahli lingkungan di Yale University dan Columbia University. Peringkat Indonesia ini turun dibandingkan dengan EPI 2008, dua tahun lalu Indonesia berada di peringkat 102 dari 149 negara di dunia dengan indeks: 66,2 (dari kemungkinan 100).

Menurut EPI, Indonesia mendapat nilai tinggi di kategori: pertanian (di peringkat 41) dan biodiversitas dan habitat (di peringkat 75). Kinerja biodiversitas lebih didukung dalam upaya pelestarian kawasan lindung laut, di peringkat: 36. Tetapi kecil dukungan sektor Kehutanan, karena kinerja kehutanan Indonesia dinilai paling buruk, di peringkat: 160 (nomor empat dari bawah), dengan nilai: 18.9. Buruknya nilai kategori kehutanan ini dikarenakan indikator untuk penutupan vegetasi hutan dinilai buruk dan hanya menduduki peringkat: 145.

Selain itu, kinerja Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim tergolong tidak mengesankan karena berada di peringkat 107. Karena Indonesia dinilai masih lemah dalam pengendalian polusi berupa pelepasan karbon dalam penyediaan listrik (peringkat: 121) dan polusi (partikel) udara kota (peringkat: 141).

Secara umum, indeks lingkungan EPI 2010 memberikan indikasi bahwa pengelolaan lingkungan hidup, terutama pembangunan kehutanan, lebih buruk dari dua tahun yang lalu. Rendahnya nilai penutupan lahan hutan, mengindikasikan bahwa alih-fungsi lahan hutan untuk penggunaaan pertambangan, perkebunan, pemukiman dan infrastruktur masih terus berlangsung. Rehabilitasi hutan dan lahan yang telah dilakukan dapat diindikasikan tidak mampu mengimbangi laju perubahan guna lahan non-kehutanan tersebut.

Berikut ini peringkat Indonesia dari 163 negara di dunia, menurut kategori EPI 2010 (didalam kurung adalah nilai/skor):

1.Lingkungan untuk berkembang-biaknya penyakit: 105 (45.4)
2.Polusi Air: 139 (31.8)
3.Penyediaan Air minum yang aman: 115 (55.8)
4.Air yang berpengaruh thd ekosistem: 37 (79.9)
5.Polusi air yang berpengaruh thd ekosistem: 117 (41.6)
6.Biodiversitas dan Habitat: 75 (63.2)
7.Kehutanan: 160 (18.9)
8.Perikanan: 79 (70.4)
9.Pertanian : 41 (86.7)
10.Perubahan Iklim: 107 (49.2)

Menurut laporan EPI 2010, pendapatan negara yang tinggi beerpengaruh terhadap keberhasilan lingkungan. Islandia berada di peringat pertama, kinerja lingkungan yang terbaik ditunjukkan di sektor kesehatan masyarakat dan lingkungan berupa pengendalian emisi gas rumah kaca, dan reboisasi. Negara berperingkat tinggi lainnya: Swiss, Kosta Rika, Swedia, dan Norwegia - yang melakukan investasi besar pada lingkungan hidup, infrastruktur, pengendalian polusi, dan kebijakan yang dirancang mengarah kepada kelestarian lingkungan jangka panjang.

Sebaliknya, negara-negara yang berada di posisi lima terbawah adalah Togo, Angola, Mauritania, Republik Afrika Tengah, dan Sierra Leone. Yang terakhir ini merupakan negara-negara miskin yang tidak memiliki fasilitas dan kapasitas kebijakan memadai.

Amerika Serikat di peringkat 61, dengan hasil yang baik pada beberapa isu, seperti penyediaan air minum yang aman dan kelestarian hutan, tetapi kinerjanya lemah pada isu-isu: emisi gas rumah kaca dan beberapa aspek polusi udara lokal. Peringkat ini menempatkan Amerika Serikat secara signifikan di belakang negara-negara industri lainnya seperti Inggris: 14, Jerman: 17, dan Jepang: 20.

Laporan 2010-EPI ini merupakan edisi ketiga yang diperbaruhi setiap dua tahun sejak tahun 2006. EPI dibangun dari data-data terbaik sesuai indikator-indikatornya yang tersedia pada organisasi internasional seperti World Bank, UN Development Programme, UN Food and Agriculture Organization (FAO), the UN Framework Convention on Climate Change, selain itu bersumber pula pada kelompok-kelompok riset, seperti World Resources Institute dan University of British Columbia. Namun, kelemahannya, karena data ini umumnya berupa laporan yang disampaikan oleh setiap negara kepada organisasi international itu, disadari bahwa pihak-pihak eksternal tidak mudah untuk melakukan verifikasi atau kajian langsung ke sumbernya di setiap negara.

Laporan lengkap EPI 2010 dapat didownload di situs EPI:

Source: EPI-Yale,http://epi.yale.edu.

Related Post:
Kebakaran Hutan, Perubahan Iklim dan Indeks Kinerja Lingkungan Hidup Indonesia.

read more..

03 February 2010

"Climate Refugees": Film Tentang Manusia vs Perubahan Iklim



"Climate Refugees" atau "para pengungsi iklim " adalah salah satu film dokumenter yang terpilih dalam festival Sundance 2010, bercerita tentang manusia yang tengah menghadapi perubahan iklim.

The film really is about the human face of climate change and how the intersection of overpopulation, overconsumption, lack of resources and a changing climate are all colliding now within civilization -- and what's happening is climatic migration.


Film yang disutradarai oleh Michael Nash menampilkan wajah (peradaban) manusia yang tengah terancam oleh perubahan iklim. Benua dan pulau-pulau yang padat penduduknya dan over-konsumsi telah berkurang sumber daya alam-nya. Konsekuensinya, terjadi pengungsian besar-besaran.

Para pengungsi ini dipaksa meninggalkan tanah mereka karena mereka benar-benar tidak bisa lagi bertahan di sana, dan "dipaksa" untuk pindah ke tempat lain.

Telah didokumentasikan di film ini, pemanasan global yang terjadi di planet bumi telah menenggelamkan dengan cepat pulau-pulau Tuvalu di Pasifik Selatan; dampak kekeringan di Sudan, garis pantai yang rentan terhadap badai di Bangladesh, dan meluasnya gurun di Cina. Semua ini telah memaksa jutaan orang untuk berpindah tempat, mengungsi atau relokasi hingga ke luar perbatasan negara mereka. Siapa yang akan menerima para pengungsi ini dan bagaimana dampak yang akan terjadi, akibat kedatangan para pengungsi di tempat baru?

Pembuat film "Cimate Refugees", Michael Nash, seperti di lansir dalam web-site resmi, telah menghabiskan dua tahun melintasi dunia, mengunjungi berbagai "hot spot", seperti tempat terjadinya kenaikan permukaan air laut yang mengancam jutaan orang agar tetap bertahan hidup.

Didukung dengan visualisasi yang kuat dan kesaksian dari para korban perubahan iklim, politisi, ilmuwan, organisasi-organisasi relawan; Penulis skenario telah berhasil membunyikan alarm peringatan untuk kita semua. Diingatkan, dalam waktu dekat ini, para pemimpin negara di dunia untuk membuat kebijakan baru dan saling bekerja sama menciptakan solusi dalam upaya mengatasi krisis perubahan iklim .

"Climate Refugees" berhasil mengungkap kejatuhan (peradaban) manusia akibat dari perubahan iklim!

PBB menyatakan bahwa saat ini lebih banyak pengungsi yang terlantar akibat bencana lingkungan hidup daripada perang, lebih dari 25 juta pengungsi iklim, berikut permasalahan ekologis dari dampak para migran. Bahkan, para pakar telah memperkirakan, jumlahnya akan berlipat ganda hingga mencapai lebih dari 50 juta prang dalam waktu lima tahun ke depan.

Organisasi seperti IPCC dan Palang Merah memperkirakan pula bahwa antara 150 juta dan 1 milyar "pengungsi iklim" akan berpindah atau mengungsi dalam waktu empat dekade, namun tidak satu hukum internasional serta-merta dapat memberikan suaka, atau dengan tangan terbuka membantu "para pengungsi iklim" ini!

Bagi Indonesia, sebagai negara kepulauan yang berpenduduk padat, film seperti ini penting untuk warganya. Paling tidak, dengan menonton film ini kita menjadi melek (literate) tentang realitas perubahan iklim dan dampaknya, salah satunya, pengungsian atau migrasi penduduk. Selain itu, masalah yang didokumentasikan film ini "dekat" dengan kondisi kita saat ini. Bukankah sumber daya alam yang kita miliki cenderung makin menyusut, namun di sisi lain pertambahan penduduk meningkat pesat ?

Semoga kita berkesempatan untuk menonton film dokumenter ini, segera....

Source and Image Credit: Climate Refugees

Related Posts:
1.South to South Film Festival 2010: Ruang Kepedulian Pembuat Film Terhadap Isu Lingkungan Hidup, Gender dan HAM
2.10 "Eco Film" Yang Dibuat Enam Tahun Terakhir
3. "The Town That Was": Film Dokumenter Bencana Dari Aktivitas Penambangan
4. The Going Green Film Festival, 2010: Kontribusi Dunia Perfilman Untuk Lingkungan Hidup

read more..

02 February 2010

Indonesia's Coral Triangle: The Upcoming 2010 Marine Culture Festival Located in


Indonesia welcomes everyone in the upcoming "2010 Raja Ampat Marine Culture Festival". It is scheduled to take place form May 2nd 2010 up to May 9th 2010 and promises the bounty of culture, adventure, and nature all together.[1]

The Raja Ampat, or “Four Kings,” archipelago encompasses more than 9.8 million acres of land and sea off the northwestern tip of Indonesia’s West Papua Province. Located in the Coral Triangle, the heart of the world’s coral reef biodiversity, the seas around Raja Ampat possibly hold the richest variety of species in the world. The area’s massive coral colonies show that its reefs are resistant to threats like coral bleaching and disease —threats that now jeopardize the survival of corals around the world.

Raja Ampat’s total number of confirmed corals to 537 species— an incredible 75% of all known coral species. In addition, 899 fish species were recorded, raising the known total for Raja Ampat to an amazing 1,074. On land, the survey found lush forests, rare plants, limestone outcroppings, and nesting beachesfor thousands of sea turtles (TNC, 2002).

At "2010 Raja Ampat Marine Culture Festival", a number of programs during the 7-day festival are showcased [1]:

  • All about culture: the exhibition, cultural (marine culture in Waisai ) and art performances,

  • Competitions like Underwater Photo Competition, Dragon Boat Competition, Ketinting Boat Competition, Underwater Orientation Competition, also Volley and Soccer Beach exhibitions.

  • One prime attraction is parade of traditional conveyance which was used by the native people of Raja Ampat to sail accross the ocean at the prior times. It's a really true cultural immersion!

    Source:
    [1] Indonesia Travel: "2010 Raja Ampat Marine Culture Festival", http://www.indonesia.travel/en/news/view/118/2010-raja-ampat-marine-culture-festival



    read more..

    30 January 2010

    Doubling Tiger Populations by 2020

    The Jakarta Post reports a dozen Asian nations and Russia vowed Friday to work to double the number of wild tigers by 2022, crack down on poaching that has devastated the big cats and prohibit the building of roads and bridges that could harm their habitats.

    The agreement includes plans to approach international institutions like the World Bank for money and to develop schemes to tap money from ecotourism, carbon financing and infrastructure projects to pay for tiger programs.

    Along with a target for doubling tiger populations, countries agreed to protect core tiger habitats as well as buffer zones and corridors that connect key sanctuaries and national parks. >> Read the full Article in The Jakarta Post

    Source: The Jakarta Post, (1/29/2010), 13 countries agree plan to save wild tigers, http://www.thejakartapost.com/news/2010/01/29/13-countries-agree-plan-save-wild-tigers.html

    Related Posts:
    1.10 Satwa Liar Paling Terancam Punah Di Dunia
    2. Sumatran Tiger Cubs on Close-up Video

    read more..
    Related Posts with Thumbnails

    About Me

    My Photo
    harri pao
    Welcome to my blog that goes to show eco lifestyle and environment focused on sustainability issues, and a listing of related articles based on labels of the current contents. Enjoy! Feel free to contact me at: harrikuswondho@gmail.com
    View my complete profile

    Followers

      © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

    Back to TOP