b l o g o d r i l

02 April 2011

NASA Earth Observatory Terbitkan Peta Lokasi Gempa Jepang

Quake near Sendai Japan, credit: NASA Earth Observatory


NASA Earth Observatory menerbitkan peta yang menunjukkan lokasi gempa bumi di Jepang yang terjadi 11 Maret lalu. Digambarkan dalam peta “Japan Shakes” ini: gempa bumi yang terjadi sebelumnya atau (foreshocks) berupa garis putus-putus, termasuk kejadian gempa bumi 7,2 pada tanggal 9 Maret lalu.
Sedangkan, gempa bumi susulan (aftershocks) juga digambarkan berupa garis utuh . Ukuran lingkaran menggambarkan besarnya magnitudo gempa (shock).

Selain itu, anda dapat juga melihat gambaran elevasi muka bumi karena peta NASA ini berbasiskan peta Shuttle Radar Topography Mission (SRTM) dan peta Ocean Bathymetry data dari the British Oceanographic Data Center. Selengkapnya dapat dikunjungi Earthquake and Tsunami near Sendai, Japan

read more..

29 January 2011

Green Jobs: Kerja Selaras Alam Makin Meningkat Di Masa Datang

Apa itu Green Jobs? Green Jobs, menurut blogodril, adalah kerja atau pekerjaan yang selaras dengan alam.

Menurut United Nation Environment Programme (UNEP), Green Jobs atau Green Colar Jobs adalah
"Work in agricultural, manufacturing, research and development (R&D), administrative, and service activities that contribute(s) substantially to preserving or restoring environmental quality. Specifically, but not exclusively, this includes jobs that help to protect ecosystems and biodiversity; reduce energy, materials, and water consumption through high efficiency strategies; de-carbonize the economy; and minimize or altogether avoid generation of all forms of waste and pollution.”

Jadi, semua pekerjaan yang secara subtansial melindungi atau memulihkan kualitas lingkungan hidup, ekosistem dan biodiversitas, mengurangi energi dan konsumsi air, mengurangi pelepasan karbon serta mengurangi limbah dan polusi dapat disebut Green Jobs.

Jika anda bertanya-tanya tentang pekerjaan apa yang tergolong green jobs, maka jawabnya, pekerjaan apa pun bisa saja merupakan green jobs. Tentu saja sebagai suatu kerja yang selaras dengan alam, maka anda disarankan untuk sedikit mengubah sudut pandang yaitu mulai memperhatikan lingkungan dalam setiap pekerjaan yang anda lakukan setiap hari dan mempertimbangkan dampak dari perubahan yang mungkin terjadi akibat dari apa yang anda kerjakan.

Paska resesi global sejak pertengahan tahun 2008 lalu, ekonomi global telah menunjukkan pergeseran yang mengarah kepada ekonomi berkelanjutan (sustainable ekonomy), yaitu ekonomi yang dicirikan dengan "rendah karbon (CO2)".

Menurut penelitian program lingkungan hidup UNEP, bahwa ekonomi berkelanjutan ini dapat menciptakan jutaan pekerjaan yang selaras dengan alam ("hijau") di berbagai sektor ekonomi. Terbukti bahwa telah terjadi peningkatan investasi di sektor energi terbarukan lebih dari 6 kali lipat atau tumbuh dari $ 10 miliar menjadi $ 66 miliar selama tahun 1998 hingga 2007.

Pada tahun 2003, energi terbarukan menyumbang sekitar 1/6 dari investasi fasilitas pembangkit listrik dan peralatan dunia.. Para pakar UNEP bahkan memperkirakan bahwa investasi bisa mencapai empat kali lipatnya lagi sehingga menjadi $ 210 miliar di tahun 2016. Demikian pula di Amerika serikat, menurut data Departemen Tenaga Kerja AS, bahwa akan terjadi pertumbuhan "green jobs" secara signifikan hingga tahun 2018.

Kerja yang selaras dengan alam cenderung akan berkembang di masa datang dan tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga memiliki dampak positif pada lingkungan hidup kita.

Kepentingan bisnis anda hendaknya bisa dikombinasikan dengan kepentingan lingkungan hidup. Banyak fakta telah menunjukkan bahwa perubahan sistem dan budaya perusahaan yang lebih peduli lingkungan hidup menyebabkan perusahaan berjalan lebih baik dari sebelumnya tanpa mengorbankan kualitas produk atau kemasan.

Pertanyaan kepada diri kita masing-masing: adalah apakah anda menggunakan 100 persen kertas daur ulang di kantor ? Ya jika anda telah memulai untuk memilih segala sesuatu yang dapat didaur ulang dan bahkan melakukan proses daur ulang sendiri, bila memungkinkan.

Indonesia diharapkan akan dapat mengatasi dua tantangan utama di masa datang, yaitu menciptakan jutaan lapangan kerja dan pekerjaan yang layak kepada jutaan pendatang baru di pasar tenaga kerja, sekaligus mengurangi dampak perubahan iklim.


read more..

18 January 2011

8 Fakta Tentang Asidifikasi Samudera

Asidifikasi Samudera, atau pengasaman air laut, akibat dari perubahan iklim patut mendapat perhatian karena dampaknya yang mengancam kehidupan laut.

Berikut saya tuliskan kembali 8 Fakta tentang Asidifikasi Samudera:


  1. Setiap tahun lautan atau samudera menyerap karbondioksida (CO2) sekitar 25% dari volume seluruh CO2 yang dilepaskan.


  2. Kontribusi (layanan) samudera, yang masih terpendam, terhadap perekonomian global diperkirakan mencapai kisaran $ 60 - $ 400 miliar per tahun )*1.


  3. Volume dan laju emisi CO2 yang meningkat berdampak pada sistem samudera , terutama menyebabkan "pengasaman (asidifikasi) samudera ", yaitu fenomena meningkatnya keasaman air samudera.


  4. Sejak Revolusi Industri, keasaman air samudera telah meningkat 30% hingga saat ini, laju pengasaman air samudera diperkirakan akan makin meningkat di dalam beberapa dekade yang akan datang dan jauh lebih cepat dari yang pernah terjadi sebelumnya.


  5. Kerangka atau cangkang kalsium karbonat yang dimiliki berbagai tumbuhan dan hewan samudera akan dipengaruhi asidifikasi samudera sekalipun perubahannya sangat kecil. Memang, terdapat beberapa jenis tumbuhan dan hewan laut yang sangat peka dengan asidifikasi samudera . Celakanya, jenis tumbuhan dan hewan yang peka ini secara langsung atau tidak langsung merupakan produsen utama bagi kepentingan ekonomi, budaya atau biologi laut kita.


  6. Jenis tumbuhan, hewan laut dan jenis-jenis lain di dalam rantai makanan yang terkena dampak asidifikasi samudera dapat mengancam kepentingan ekonomi masyarakat. Salah satunya adalah resiko kekurangan pangan bagi wilayah yang mayoritas penduduknya bergantung pada protein dan hasil dari lautan.


  7. Asidifikasi samudera berpeluang besar merusak atau memusnahkan ekosistem samudera jika laju pelepasan CO2 di atmosfer terus meningkat seperti yang diramalkan, sehingga suhu permukaan air samudera akan menjadi lebih hangat pada tahun 2050. Dampak lainnya antara lain: kerusakan terumbu karang dan kepunahan jenisnya.


  8. Hingga tahun 2100, 70% terumbu karang yang hidup di lautan dingin akan terkelupas oleh air samudera yang bersifat korosif itu, lihat peta berikut.


Source: National Geographic[2]


Dari fakta-fakta asidifikasi samudera tersebut, pengendalian emisi CO2 secara drastis dan cepat terus diupayakan dan diarahkan kepada "stabilisasi" (idealnya, "pengurangan") CO2 di atmosfer, agar dapat memperlambat laju asidifikasi samudera dan, pada akhirnya, perubahan iklim.

______________
*1 Asumsi dari perhitungan teoritis ini, berdasarkan pada "Carbon Sequestration" sebanyak 2 Giga ton per tahun, pada tingkat harga kredit carbon di masa datang $30 – $200 per ton CO2.

Sources:
1. Ocean Acidification Reference User Group (2009). Ocean Acidification: The Facts. A special introductory guide for policy advisers and decision makers. Laffoley, D. d’A., and Baxter, J.M. (eds). European Project on Ocean Acidification (EPOCA). 12pp.
2. Acid Threat. National Geographic, published: November 2007

Related Post:
Asidifikasi Samudera: Tingkat Keasaman Lautan Naik Lebih Besar Dari Yang Pernah Terjadi

read more..

14 January 2011

Jumlah Debu di Atmosfer Telah Bertambah Dua Kali Lipat

Science Daily (12/01) melaporkan bahwa selama satu abad terakhir jumlah debu di atmosfer bumi telah bertambah dua kali lipat, menurut suatu penelitian yang dipimpin oleh oleh Natalie Mahowald, associate professor di bidang earth and atmospheric sciences. Kodisi ini merupakan peningkatan yang dramatis sehingga mempengaruhi iklim dan ekologi di seluruh dunia.

Penelitian oleh tim Mahowald ini telah dipaparkan di dalam pertemuan musim gugur American Geophysical Union di San Francisco 13 Desember 2010.

Gambar Satelit Pusaran Badai Debu di atas Gurun Sahara (Sumber: NASA)


Liputan ScienceDaily ini menjelaskan bahwa Mahowald menganalisis data yang tersedia dan membuat model komputer untuk memperkirakan jumlah debu padang pasir, atau partikel tanah di atmosfer dalam kurun waktu abad ke-20.

Kajian ini merupakan studi pertama kali untuk melacak fluktuasi aerosol alam, bukan yang disebabkan oleh aktivitas manusia, di seluruh dunia selama satu abad. Seperti Mohawald katakan, bahwa sebagian besar penelitian yang berkaitan dengan dampak aerosol terhadap iklim difokuskan pada aerosol antropogenik (yang disebabkan oleh aktivitas manusia melalui pembakaran).

Dampak Debu di Atmosfer

Debu gurun berkaitan erat dengan iklim di bumi, saling mempengaruhi satu sama lain secara langsung maupun tidak langsung melalui berbagai sistem. Debu menghambat dan membatasi jumlah radiasi matahari yang mencapai bumi karena debu memantulkan radiasi matahari kembali ke atmosfer. Wilayah dunia yang dinaungi debu di atasnya menjadi kurang panas [1,2].

Sama seperti jika terjadi peningkatan CO2 di atmosfernya, akibatnya berpengaruh pada awan dan curah hujan. Curah hujan makin berkurang lalu menyebabkan kekeringan. Pada gilirannya dapat menyebabkan lebih banyak debu dan penggurunan (desertification).

Debu juga merupakan sumber utama zat besi di samudera. Melalui proses kimia yang rumit, zat besi menjadi tersedia dan berguna bagi kehidupan plankton dan organisme lainnya. Selain itu zat besi juga mampu menarik/mengikat karbon dari atmosfir.

Fluktuasi Debu Gurun [1]

Para peneliti ini telah mengukur fluktuasi debu gurun lebih dari satu abad, dengan mengumpulkan data/informasi tentang konsentrasi masa lalu debu gurun yang ada di dalam inti es, endapan danau dan karang di wilayah-wilayah tertentu di dunia. Setiap sampel kemudian dilacak atu dihubungkan dengan kemungkinan sumber debu, daerah atau gurun asalnya. Laju pengendapan debu kemudian dihitung dari waktu ke waktu. Selanjutnya,dengan suatu sistem pemodelan komputer yang dikenal sebagai Model Sistem Iklim Komunitas (the Community Climate System Model), peneliti merekonstruksi pengaruh debu gurun pada suhu, curah hujan, endapan besi di samudera dan penyerapan karbon terestrial dari waktu ke waktu.

Para peneliti ini diantaranya menemukan bahwa perubahan suhu dan curah hujan di suatu wilayah menyebabkan pengurangan penyerapan karbon terestrial global. Sampai dengan abad ke 20 mencapai 6 ppm (parts per million). Model ini juga menunjukkan debu yang disimpan dalam lautan meningkatkan serapan karbon dari atmosfir sebesar 6 persen, atau 4 ppm, dalam periode waktu yang sama.

Di waktu lalu, para peneliti lain, yang dipimpin Uno, juga menemukan bahwa awan debu (gurun) dapat terbang hingga 8 - 10 km ( 5-6 mil) di atas permukaan bumi dan bergerak lebih dari satu putaran keliling bumi [3]. Temuan ini memperkuat hasil studi Mahowald bahwa keberadaan debu di atmosfer berpengaruh terhadap perubahan iklim global demikian pula sebaliknya.

Sources:

1. Cornell University (2011, January 12). Earth is twice as dusty as in 19th century, research shows. ScienceDaily. Retrieved January 14, 2011, from http://www.sciencedaily.com­ /releases/2011/01/110110055748.htm
2. Dust particles have global impact; http://www.cartage.org.lb/en/themes/Sciences/Earthscience/Geology/Deserts/Dustparticles/Dustparticles.htm
3. China dust cloud circled globe in 13 days, Reuter (Mon Jul 20, 2009). Retrieved January 14, 2011, from http://www.reuters.com/article/idUSTRE56J3YH20090720?feedType=RSS&feedName=environmentNews

read more..

13 January 2011

24 Istilah dan Jargon dalam Perubahan Iklim


Jika kita membaca artikel tentang perubahan iklim atau pemanasan global barangkali akan menjumpai banyak istilah, singkatan atau jargon teknis yang dipakai dan membingungkan sebagian besar dari kita yang awam ini.

Saya mencoba untuk mengartikannya secara bebas 6 (enam) istilah yang pertama dan menuliskan kembali lainnya, sebagai berikut:

1. Cap and Trade

Salah satu cara untuk menetapkan suatu ambang batas emisi gas rumah kaca di suatu daerah atau industri. Pembuat polusi (polluters) diberikan izin karbon (carbon permits) yang akan menambah "keterlibatan" atau "cap" mereka dalam kegiatan pengurangan emisi. Kemudian mereka dapat menjual carbon permits yang dimilikinya, setelah berhasil mengurangi emisi, kepada polutters atau pihak lain yang belum melakukan pengurangan emisi.

2. Carbon Intensity / Intensitas Karbon

Banyaknya bahan bakar fosil yang harus dipakai untuk memproduksi sebuah unit ekonomi. Pengurangan intensitas karbon, seperti yang dikatakan negara Cina, adalah Produk Domestik Bruto (PDB) akan terus meningkat tetapi dengan penambahan emisi karbon yang lebih lambat (tidak pada laju peningkatan yang sama). Hal ini akan dilakukan melalui cara efisiensi energi yang lebih besar dan investasi dalam teknologi ramah lingkungan.

3. Carbon Tax / Pajak Karbon

Suatu pembebanan pajak secara langsung pada kegiatan yang menghasilkan emisi karbon. Mekanismenya agak sedikit "birokrasi" dibandingkan "cap and trade", namun masih sulit untuk memberikan hasil yang pasti dalam hal pengurangan emisi secara keseluruhan.

4. Climate feedback / Umpanbalik Iklim

Uni Eropa menginginkan suatu ambang batas peningkatan suhu global tidak lebih dari 2 Celsius untuk menghindari bahaya dari perubahan iklim. Suhu yang meningkat akan berdampak memicu "tipping point" di wilayah tundra kutub utara dimana salju akan lebih cepat mencair dan melepaskan gas metana yang mempunyai efek 8 kali lebih besar dari CO2.

5. Offsetting / Memperhitungkan (??)

Membayar untuk pengurangan emisi di tempat lain sebagai kompensasi (mengimbangi) kegiatan-kegiatan yang menghasilkan polusi. Seringkali cara ini dikritik, karena memungkinkan negara-negara kaya untuk menghindari kewajibannya mengurangi emisi di negaranya sendiri dengan cukup membayar upaya pengurangan emisi di tempat/negara lain.

6. Peak emissions / Emisi Puncak

Waktu saat emisi gas rumah kaca global tidak bertambah lagi dan lajunya mulai bergerak turun. Para ilmuwan mengatakan tahun 2015 seharusnya ini terjadi dan iklim mulai stabil, tapi nampaknya kecenderungannya hal tersebut tidak akan tercapai


Selanjutnya, istilah-istilah berikut ini, saya kutip dari buku " "Glossary: Istilah dan Singkatan yang Terkait dengan Perubahan Iklim", dan tidak lupa saya ucapkan terima-kasih kepada Rufi'ie di Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia yang telah menyusunnya.


7. Adaptation / Adaptasi

Penyesuaian dalam sistem alam atau sistem buatan manusia untuk menjawab rangsangan secara iklim (aktual atau perkiraan) atau pengaruhnya, yang mengontrol bahaya yang ditimbulkan atau memberikan kesempatan yang menguntungkan.

8. Additionality

Berdasarkan Protokol Kyoto, pengurangan emisi gas yang dihasilkan dari kegiatan Mekanisme Pembangunan Bersih atau Clean Development Mechanism (CDM) dan Joint Implementation harus bersifat menambah (additional) dari yang seharusnya terjadi. Additionality terjadi apabila terdapat perbedaan positif antara emisi yang terdapat pada skenario "baseline" dengan emisi yang terjadi di dalam proyek yang diusulkan.

9. Afforestation / Aforestasi

Penanaman hutan baru pada lahan-lahan yang secara historis bukan merupakan hutan

10. Annex I Parties

Negara-negara industri yang terdaftar pada lampiran Konvensi yang mempunyai komitmen untuk mengembalikan emisi gas rumah kaca ke tingkatan tahun 1990 pada tahun 2000 sebagaimana pada Artikel 4.2 (a) dan (b). Negara-negara ini juga menerima target emisi untuk periode 2008-12 seperti pada Artikel 3 dan Lampiran B Protokol Kyoto. Negara-negara ini termasuk 24 anggota asli OECD, Uni Eropa, dan 14 negara transisi ekonomi. (Croatia, Liechtenstein, Monaco, and Slovenia bergabung dengan Lampiran/Annex 1 pada COP-3, dan the Czech Republic d an Slovakia menggantikan Czechoslovakia).

11. Non-Annex I Parties


Merujuk ke negara-negara yang telah meratifikasi atau menyetujui Konvensi PBB tentang Perubahan Iklim yang tidak termasuk ke dalam Annex I Konvensi.


12. Annex II Parties


Negara-negara yang terdaftar pada Lampiran/Annex II Konvensi yang mempunyai kewajiban khusus untuk menyediakan sumberdaya finansial dan memfasilitasi transfer teknologi untuk Negara berkembang. Negara-negara ini termasuk 24 anggota awal OECD ditambah dengan negara-negara Uni Eropa.

13. Anthropogenic greenhouse emissions


Emisi gas rumah kaca yang berasal dari aktivitas manusia.


14. Carbon Dioxide Equivalent (CO2e)

Unit universal pengukuran yang digunakan untuk mengindikasikan potensi pemanasan global dari masing-masing enam gas rumah kaca,Karbon dioksida – gas yang terjadi secara alamiah yang merupakan hasil sampingan pembakaran bahan baker fosil dan biomassa, perubahan penggunaan lahan, dan proses industri lainnya – merupakan gas referensi bagi pengukuran gas-gas lainnya.

15. Carbon sequestration

Proses memindahkan karbon dari atmosfir dan menyimpannya dalam reservoir.

16. Clean Development Mechanism (CDM) / Mekanisme Pembangunan Bersih

Mekanisme di bawah Protokol Kyoto dimana negara maju dapat mendanai proyek pengurangan atau pemindahan emisi gas rumah kaca di negara berkembang, dan menerima kredit untuk pelaksanaannya yang dapat digunakan untuk memenuhi kewajiban pengurangan emisi negara maju.

17. COP/MOP

Conference of the Parties serving as the Meeting of the Parties (COP/MOP) yang berfungsi sebagai Pertemuan Para Pihak. Badan tertinggi Konvensi adalah COP, yang berfungsi sebagai pertemuan Pihak-pihak pada Protokol Kyoto. Sesi COP dan COP/MOP dilaksanakan pada periode yang sama untuk mengurangi biaya dan meningkatkan koordinasi antara Konvensi dan Protokol.

18. Deforestation / Deforestasi

Konversi hutan menjadi bukan hutan secara permanen.

19. Emissions trading / Perdagangan Emisi

Salah satu dari tiga mekanisme yang ada di Protokol Kyoto, dimana negara Annex I dapat mentransfer unit Protokol Kyoto untuk membeli unit dari Pihak Annex I lainnya. Suatu Pihak dalam Annex I harus memenuhi persyaratan spesifik "eligibility" untuk ikut serta dalam perdagangan emisi.

20. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)

Dibentuk pada tahun 1998 oleh Organisasi Meteorologi Dunia dan Program Lingkungan PBB (UNEP), IPCC melakukan survei literatur teknis dan ilmiah di seluruh dunia dan mempublikasikan laporan yang dikenal secara luas sebagai sumber informasi perubahan iklim yang paling dapat dipercaya. IPCC juga bekerja di metodologi dan menjawab permintaan khusus dari badan subsider Konvensi. IPCC merupakan institusi independen dan tidak terkait dengan Konvensi.

21. Mitigation

Dalam konteks perubahan iklim, mitigasi adalah intervensi manusia untuk mengurangi sumber atau meningkatkan sink gas rumah kaca. Contohnya adalah menggunakan bahan bakar fosil secara lebih efisien untuk proses industri atau pembangkit tenaga listrik, beralih ke energi matahari atau tenaga angin, meningkatkan insulasi pada bangunan, dan membangun hutandan sink lainnya untuk mengurangi lebih banyak lagi karbondioksida dari atmosfer.

22. Protocol

Persetujuan internasional terkait dengan konvensi, tetapi sebagai suatu persetujuan tambahan dan terpisah yang harus ditandatangani dan diratifikasi oleh para Pihak konvensi terkait. Protokol biasanya memperkuat suatu konvensi dengan menambah komitmen baru yang lebih detail.

23. Ratification / Ratifikasi

Persetujuan formal, seringkali oleh Parlemen/DPR atau badan legislatif nasional lainnya, terhadap suatu konvensi, protokol, atau perjanjian, sehingga memungkinkan suatu Negara menjadi suatu Pihak . Ratifikasi merupakan suatu proses terpisah yang dilakukan setelah suatu Negara menandatangani suat perjanjian. Instrumen ratifikasi harus diletakkan dengan suatu ”depositary” (dalam hal Konvensi Perubahan Iklim, Sekretaris Jenderal PBB) untuk mulai perhitungan awal menjadi suatu Pihak (dalam hal Konvensi, waktunya adalah 90 hari).

24. Vulnerability / Kerentanan

Suatu derajat dimana sebuah sistem sensitif terhadap, atau tidak dapat menghadapi, pengaruh buruk perubahan iklim, termasuk variabilitas iklim dan iklim ekstrim. Vulnerability/kerentanan merupakan fungsi dari sifat, skala/derajat, dan tingkat variasi iklim dimana suatu sistem terkena sensitivitas, dan kemampuan adaptasinya.

Secara lengkap anda dapat mengunduh Glossary: Istilah dan Singkatan terkait Perubahan Iklim di sini.

Related Posts:

1.COP 16 : Kesepakatan Iklim Cancún (Cancún climate agreements) Secara Ringkas
2. Emisi CO2 dan Pengurangannya Di Masa Datang
3. Perubahan Iklim: Mengapa Kita Harus Memahaminya ?

read more..

12 January 2011

COP 16 : Kesepakatan Iklim Cancún (Cancún climate agreements) Secara Ringkas



Konferensi Para Pihak atau Conference of the Parties of the United Nations Framework Convention on Climate Change (COP) yang ke 16 baru saja diselenggarakan di Cancun, Meksiko pada 29 November - 10 Desember 2010. COP-16 ini telah melahirkan suatu kesepakatan (agreements) tentang Iklim.

Siapa sih para pihak ini ?

"Para pihak" ini adalah semua negara yang telah bersepakat meratifikasi Protokol Kyoto (184 negara) dan Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (194 negara). Negara-negara ini berkomitmen untuk memelihara dan memenuhi persyaratan kerjasama internasional dalam hal melawan perubahan iklim. Jadi COP, bukanlah berarti "polisi", tetapi akronim bahasa Inggris dari pertemuan kembali atau konferensi negara-negara (para pihak) yang berkepentingsn dengan perubahan iklim.

Apa sih hasil COP-16 ?

Hasil COP-16 secara ringkas, dari kompilasi artikel di internet, karena blogodril tidak ikut hadir, seperti berikut:

Janji Mengurangi Emisi Karbon

Negara-negara kaya yang telah berjanji mengurangi emisi gas rumah kaca pada tahun 2020 sewaktu di Kopenhagen (COP-15) tahun lalu memang tidak dimasukkan dalam program resmi PBB. Nah, di COP-16 ini janji-janji berupa besaran emisi gas rumah kaca yang akan dikurangi pada tahun 2020 oleh setiap negara kaya tersebut didokumentasikan atau dicatat resmi oleh PBB. Ya, sepertinya mau diawasi dan ditagih janjinya nanti, meskipun mereka boleh berlebih atau berkurang pemenuhan janjinya nanti. Tambahannya, negara-negara berkembang juga bersedia mempelajari dulu bagaimana agar mereka dapat mengurangi emisi gas rumah kaca di masa depan - tetapi tidak membuat janji khusus.

Lalu, bagaimana kalau negara-negara kaya itu tidak menepati janjinya ? Ya, begitulah...karena tidak ada hukum yang mengikat janji mereka, maka ya tak ada sanksilah...

Bantuan Iklim (Climate Aid)

Suatu bantuan iklim telah disepakati di Cancun. Negara-negara maju di dunia akan mentransfer uangnya ke negara-negara yang sedang berkembang untuk mengatasi dampak perubahan iklim. Negara-negara miskin melihat ini sebagai keberhasilan mereka atas kesediaan pendanaan ini yang dijadwalkan pada tahun 2011 dan akan dibentuk suatu "komite transisi dana" .

Tapi berapa banyak dana yang akan dianggarkan ? Belum seorangpun tahu itu...Ada yang bilang sesuai janji mereka tahun lalu di Kopenhagen untuk mengumpulkan $ 100 milyar (£ 63 miliar) bagi bantuan iklim pada tahun 2020 dan dimulai dengan $ 30 milyar (£ 19 miliar) pada tahun 2012 untuk "program singkat" pembiayaan iklim. Janji ini semoga bukan "angin sorga", karena bagaimanapun bukanlah bagian dari proses PBB dan hanya sebuah aspirasi negara-negara kaya.

Bantuan untuk REDD

Dukungan formal diberikan untuk skema deforestasi PBB, yaitu REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Degradation). Sama seperti bantuan iklim tadi, negara-negara kaya akan membayar negara-negara miskin untuk berhenti menebang hutan dan mencegah emisi karbon. Namun rincian tentang kapan dan apa bentuk skema yang akan dipilih - terutama apakah negara maju dapat menggunakannya sebagai bentuk "offset" emisi karbon mereka, ini belum jelas..


Alih teknologi

Ide mentransfer pengetahuan tentang "teknologi pembangunan bersih" antar negara di dunia juga mendapat dukungan di Cancún. Suatu komite dengan pelaksana eksekutifnya dan pusat teknologi dan jaringan iklim dunia perlu didirikan, tetapi kesepakatan ini belum dirinci tentang dananya, di mana akan dibangun, kapan dan oleh siapa akan dibangun...

Protokol Kyoto

Protokol Kyoto yang saat ini mengikat negara-negara kaya untuk mengurangi emisi, yang ditangguhkan hingga tahun depan, juga belum diputuskan kelanjutannya. Apakah perlu membuat perjanjian internasional serupa di tahun 2012 nanti ? Yang ini, baru akan dibicarakan tahun depan di Afrika Selatan.

Selain itu, peran protokol yang akan ditingkatkan sebagai dokumen berkekuatan hukum yang mengikat negara-negara di dunia untuk mengurangi emisi di masa depan juga masih tertunda pembahasannya.

Pengawasan

Para peserta konferensi juga sepakat untuk melakukan pemeriksaan terhadap negara-negara yang telah memotong emisi-nya. Seperti apa "pemantauan, pelaporan dan verifikasi" tentang "emission cuts" ini akan tergantung pada ukuran perekonomian negara. Meskipun demikian, siapa yang akan melakukan pengawasan - apakah negara itu sendiri, PBB atau badan lain ? - tidak ditentukan.

Related Posts:
1.Indonesia Would Reduce Emissions 26 percent by 2020
2.US $ 136 Juta Janji Bantuan Iklim Amerika Serikat Kepada Indonesia

read more..
Related Posts with Thumbnails

Followers

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP